Pulang liburan

February 17, 2008

hari ini gw baru pulang dari liburan….capek sekali rasanya badan gw….tp masih tetep fit buat nulis di blog ini…akhirnya liburan telah usai…bsk sudah mulai masuk kuliah lagi….SEMANGAT!!!!!SEMANGAT!!!! besok adalah hari pertama masuk kuliah ke semester baru….semoga di semester ini gw bisa lebih baik lagi dalam setiap mata kuliah….dengan demikian gw bisa mendapat nilai yg baik juga…dan tak lupa gw mau mengucapkan terima kasih banyak kepada semua dosen yg ada di semester sebelumnya hehe….dosennya baik2 banget…walaupun baru 1 nilai yg keluar tp gw percaya dosennya baik2 semua dan enak2 semua dalam pengajaran(bukan makanan)… terima kasih banyak pak buat semuanya setiap pengajaran, bimbingan, serta canda tawa dan tak juga kerap kali teguran di kelas….semuany baik dan berguna bagi saya….semoga di semester yg berikutnya kita dapat bertemu kembali…hehe…atau dosennya beda tapi tetep baik2 seperti dosen di semester sebelumnya…sekali lagi saya ucapkan terima kasih…

oh iya….tak lupa oleh2 buat temen2 yang sudah dengan sabar menanti hehee…

tar kita makan bareng2 yahh….hehe….

†JLU†

Kejadian Aneh Yang Hari Ini Gw Alamin

February 1, 2008

hari ini gw bangun pagi karena harus siap2 berangkat buat ujian. Ujian gw mulainya jam 10.00 jadi jam 9an gw udah bangun. Pas bangun gw berdoa mengucap syukur abis itu gw idupin komp gw pengen baca2 dikit dari slide yang ada. Lagi enak2 klik sana klik sini gak sengaja tangan gw tuh kesenggol kacamata gw yang gw taruh di deket mouse gw… trus kacamata gw jatuh(PRAK!!) gw pikir ah udah biasa kacamata gw jatuh gak pernah yang namanya itu retak/pecah lensanya…tapi hari ini tuh….kacamata gw lensanya retak dikit….ya udah gw pikir retak ya sudah….gw pikir mau bawa ke tempat optiknya tar…abis itu gw gak bawa kacamata gw ke kampus karena gw pikir ga diperlukan saat itu. Trus gw berangkat deh ujian dengan diterpa hujan yang deras dan badai yang kencang. Pulangnya makan dulu bareng ama temen abis itu gw pulang ke kos….. NAH!!! keanehan pun terjadi… pas gw udah duduk di depan komp gw….gw iseng lagi pengen liat kacamata gw….NAH!! pas gw liat kacamata gw BUSET!!! gw kagetnya setengah mati!!! sampe merinding semua badan gw!!! tau gak kenapa?? itu kacamata gw pas gw liat itu gak ada retaknya sama sekali!!! buset dah!! ini gw langsung ceritain sama temen sekamar gw…abis itu gw langsung deh tulis nih blog…biar kejadian hari ini gw masih simpen di blog gw…dan gw mau share ke orang2 serta temen2 gw….asli dah!!

50 alasan mengapa kita tidak perlu takut

December 23, 2007

50 Alasan mengapa kita tidak boleh takut ?

1.   Karena kita punya Tuhan
2.   Tuhan kita adalah maha kuasa
3.   Tuhan kita beserta kita
4.   Tuhan kita mengasihi kita
5.   Tuhan kita memimpin hidup kita
6.   Tuhan kita hidup
7.   Tuhan kita melihat kita
8.   Tuhan kita mengatur hidup kita
9.   Tuhan kita mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihiNya
10. Tuhan kita memelihara hidup kita
11.  Tuhan memimpin sejarah
12.  Tuhan mengatur hidup
13.  Tuhan mengatur masa depan
14.  Tuhan berdaulat
15.  Tuhan menjaga
16.  Karena kita harus beriman
17.  Kita sudah dibenarkan
18.  Kita sudah diampuni
19.  Kita diberikan kekuatan
20.  Kita sudah disucikan
21.  Kita sudah tidak dihukum lagi
22.  Kita sudah diterima
23.  Kita hidup dalam kasih
24.  Kita punya pengharapan
25.  Kita tidak sendiri
26.  Kita ada di dalam tubuh Kristus
27.  Dalam tubuh Kristus ada kasih
28.  Di dalam kasih tidak ada ketakutan
29.  Masa depan di tangan Tuhan
30.  Karena janji Tuhan
31.  Tuhan tidak pernah meninggalkan
32.  Janji Tuhan berlaku bagi kita
33.  Anugerah Tuhan menyertai kita
34.  Roh Kudus menghibur kita
35.  Kristus mendoakan kita
36.  Roh Kudus membantu kita berdoa
37.  Kita diberikan roh yang membangkitkan kasih, kekuatan dan ketertiban
38.  Kita bukan lagi budak tetapi anak
39.  Kita memiliki Roh Kudus
40.  Kita dapat berdoa kepada Allah
41.  Kita dapat menyerahkan beban kepada Allah
42.  Roh Penghibur menghibur kita
43.  Kita punya penasihat ajaib
44.  Firman Tuhan menghibur kita
45.  Firman Tuhan memberikan kekuatan
46.  Firman Tuhan memberikan iman
47.  Firman Tuhan berotoritas mendidik
48.  Roh Kudus menyertai kita
49.  Takut adalah dosa
50.  Iman menghilangkan ketakutan

RENCANA TUHAN BAGI KITA

December 11, 2007

           

            Alkisah, ada tiga pohon di dalam hutan. Suatu hari, ketiganya saling menceritakan mengenai harapan dan impian mereka. Pohon pertama berkata: ”Kelak aku ingin menjadi peti harta karun. Aku akan diisi emas, perak, dan berbagai batu permata dan semua orang akan mengagumi keindahannya.”

Kemudian pohon kedua berkata: ”Suatu hari kelak aku akan menjadi sebuah kapal yang besar. Aku akan mengangkut raja-raja dan berlayar ke ujung dunia. Aku akan menjadi kapal yang kuat dan setiap orang merasa aman berada dekat denganku.”

Lalu giliran pohon ketiga yang menyampaikan impiannya: ”Aku ingin tumbuh menjadi pohon yang tertinggi di hutan di puncak bukit. Orang-orang akan memandangku dan berpikir betapa aku begitu dekat untuk menggapai surga dan TUHAN. Aku akan menjadi pohon terbesar sepanjang masa dan orang-orang akan mengingatku.

Setelah beberapa tahun berdoa agar impian terkabul, sekelompok penebang pohon datang dan menebang ketiga pohon itu. . . . . . .

Pohon pertama dibawa ke tukang kayu. Ia sangat senang sebab ia tahu bahwa ia akan dibuat menjadi peti harta karun. Tetapi……doanya tidak menjadi kenyataan karena tukang kayu membuatnya menjadi kotak tempat menaruh makanan ternak. Ia hanya diletakkan di kandang dan setiap hari diisi dengan jerami.

Pohon kedua dibawa ke galangan kapal. Ia berpikir bahwa doanya menjadi kenyataan. Tetapi……. ia dipotong  potong dan dibuat menjadi sebuah perahu nelayan yang sangat kecil. Impiannya menjadi kapal besar untuk mengangkut raja-raja telah berakhir.

Pohon ketiga dipotong menjadi potongan-potongan kayu besar dan dibiarkan teronggok dalam gelap.

Tahun demi tahun berganti . . . , dan ketiga pohon itu telah melupakan impiannya masing-masing. Kemudian suatu hari . . . . .

Sepasang suami istri tiba di kandang. Sang istri telah melahirkan dan meletakkan bayinya di kotak tempat makanan ternak yang dibuat dari pohon pertama. Orang-orang datang dan menyembah bayi itu. Akhirnya pohon pertama sadar bahwa didalamnya telah diletakkan harta terbesar sepanjang masa.

Bertahun-tahun kemudian… sekelompok laki-laki naik ke atas perahu nelayan yang dibuat dari pohon kedua. Di tengah danau, badai besar datang dan pohon kedua berpikir bahwa ia tidak cukup kuat untuk melindungi orang-orang didalamnya. Tetapi salah seorang laki-laki berdiri dan berkata kepada badai: ”Diam!!! Tenanglah!”

Dan badai itupun berhenti. Ketika itu tahulah pohon kedua bahwa ia telah mengangkut Raja diatas segala raja.

Akhirnya… seseorang datang dan mengambil pohon ketiga. Ia dipikul sepanjang jalan sementara orang-orang mengejek laki-laki yang memikulnya. Laki-laki itu kemudian dipakukan ke kayu ini dan mati di puncak bukit. Akhirnya pohon ketiga sadar bahwa ia demikian dekat dengan TUHAN, karena YESUSlah yang disalibkan padanya….

 

 

KETIKA KEADAAN TIDAK SEPERTI YANG ENGKAU INGINKAN, KETAHUILAH BAHWA TUHAN MEMILIKI RENCANA UNTUKMU. JIKA ENGKAU PERCAYA PADA-NYA, IA AKAN MEMBERIMU BERKAT-BERKAT BESAR. KETIGA POHON MENDAPATKAN APA YANG MEREKA INGINKAN, TETAPI TIDAK DENGAN CARA YANG SEPERTI MEREKA BAYANGKAN. BEGITU JUGA DENGAN KITA, KITA TIDAK SELALU TAHU APA RENCANA TUHAN BAGI KITA. KITA HANYA TAHU BAHWA JALAN-NYA BUKANLAH JALAN KITA. MEMANG TERKADANG KEADAAN TIDAK TERJADI SEPERTI YANG KITA INGINKAN, TETAPI BISA LEBIH BAIK.  

Renungan

December 10, 2007

Yohanes 1:1-14

 

MEMBIARKAN LAMPU MENYALA

[Yohanes] datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu,

supaya oleh Dia semua orang menjadi percaya

(Yohanes 1:7)

 

Suatu kali sebuah grup motel memasang iklan serial di radio yang diakhiri dengan kata-kata yang menenteramkan, “Kami akan membiarkan lampu tetap menyala bagi Anda.” Ibu pun biasa mengatakan hal yang sama kepada saya.

Terkadang saya pulang larut malam dari kerja pabrik atau dari kampus. Apa pun alasannya atau pada jam berapa pun, saya selalu mendapati lampu beranda tetap menyala. Cahaya hangatnya seakan berkata, “Inilah tempatmu. Di sini ada seseorang yang mengasihimu. Kau sudah di rumah.”

Yesus mengatakan bahwa kita, yang mengenal Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan, adalah terang dalam dunia yang digelapkan dosa (Matius 5:14-16). Kita adalah cerminan Kristus Sang “Terang yang sesungguhnya” (Yohanes 1:9).

Seperti Yohanes Pembaptis yang bersaksi tentang Terang itu dan memimpin orang-orang kepada Yesus (ayat 7), kita pun dapat seperti dia. Jalan ketaatan kita yang setia kepada-Nya adalah mercusuar kasih dan kebenaran Allah. Hidup dan ucapan kita menjadi cahaya hangat yang menembus dunia yang dingin dan gelap ini. Kita bagaikan lampu beranda di malam hari yang menarik orang-orang yang belum percaya kepada Yesus, meneguhkan mereka bahwa ada Pribadi yang mengasihi mereka dan menanti untuk menyambut kedatangan mereka di rumah.

Mungkin salah satu anggota keluarga Anda masih ada dalam kegelapan. Mungkin Anda prihatin terhadap kawan atau rekan kerja Anda. Jangan berhenti mendoakan mereka. Teruslah berusaha menarik perhatian mereka kepada Tuhan. Pastikan lampu tetap menyala bagi mereka  – DE

 


Yohanes 21:18-25

 

OBAT KEMARAHAN

Jawab Yesus: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang,

itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku”

(Yohanes 21:22)

 

Kita mungkin akan langsung menyetujui pernyataan bahwa “semua manusia diciptakan setara”. Namun, kita tidak perlu waktu lama untuk menyadari bahwa kehidupan memperlakukan sebagian orang lebih baik daripada yang lain. Kita harus belajar menerima hal ini tanpa merasa marah.

Ketidakadilan hidup dapat terlihat dalam banyak segi kehidupan. Penyakit kanker menggerogoti tubuh seorang anak kecil, sementara para perokok dan peminum berat tetap hidup sampai usia lanjut. Sebagian orang menikmati kesehatan yang bagus, sedangkan yang lainnya tidak. Sebagian orang tidak menderita cacat fisik, tetapi yang lain mengalami cacat yang parah. Sebagian orang bekerja dengan keras namun tetap hidup dalam kemiskinan, sementara yang lain dilahirkan kaya atau tampaknya selalu mendapatkan segala macam kesempatan.

Ketika Yesus memberi tahu Rasul Petrus bahwa ia akan gugur sebagai martir karena memperjuangkan imannya, Petrus kemudian bertanya apa yang akan terjadi dengan Yohanes. Tampaknya ia berpikir bahwa tidak adil kalau Yohanes tidak mati dengan cara yang sama. Namun, Yesus berkata kepada Petrus bahwa apa yang akan terjadi pada Yohanes bukanlah urusan Petrus. Itu sudah menjadi keputusan Allah. Tanggung jawab Petrus hanyalah mengikuti Kristus.

Apabila melihat orang lain membuat Anda marah terhadap ketidakadilan hidup ini, ubahlah fokus Anda. Pandanglah Yesus dan ikutlah Dia. Ketidakadilan hidup hanyalah bersifat sementara. Keadilan sempurna akan kita nikmati selamanya di dalam surga – H V

 

KEMARAHAN DATANG KARENA MELIHAT ORANG LAIN

KEPUASAN DATANG KARENA MELIHAT ALLAH

 

 

Matius 7:21-29

 

BADAI

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,

ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu

(Matius 7:24)

 

Neal Beidleman selamat dari ekspedisi malang pada tahun 1996, di mana delapan orang pendaki gunung tewas di atas Gunung Everest. Sebagian dari mereka telah membayar uang sebesar 65.000 dolar agar mendapat kesempatan mendaki puncak gunung tertinggi di dunia itu. Saat mengevaluasi penyebab kemalangan tersebut, Beidleman berkata, “Tragedi dan malapetaka … tidak disebabkan oleh sebuah keputusan, kejadian, atau kesalahan tunggal, tetapi merupakan titik puncak dari banyak hal dalam hidup Anda. Ada sesuatu yang terjadi, dan kejadian itu menjadi katalisator bagi datangnya semua risiko yang telah Anda ambil.”

Di atas Gunung Everest, “sesuatu” itu berupa badai salju yang mengamuk. Menurut jurnalis Todd Burgess, “Jika bukan karena badai, para pendaki gunung itu tetap akan menghadapi banyak tantangan yang penuh risiko. Tetapi badai itulah yang menunjukkan kelemahan mereka.”

Berbagai hal yang berisiko dalam hidup kita kini, baik ketidakpedulian atau ketidaktaatan rohani, dapat menenggelamkan kita saat badai menerjang. Yesus menceritakan sebuah kisah tentang pembangun rumah yang bijak dan bodoh untuk menekankan arti penting ketaatan akan firman-Nya (Matius 7:24-27). Dia berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu” (ayat 24).

Ketaatan kepada Kristus tidak menghapuskan badai kehidupan, tetapi hal ini menentukan apakah kita akan bertahan atau jatuh ketika badai datang menerjang – DC

 

BADAI KEHIDUPAN MENGUNGKAPKAN KEKUATAN IMAN KITA

 

 Filipi 2:1-4,12-16

 

JALAN PULANG

Kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia

(Filipi 2:15)

 

Penulis Anne Lamott mengisahkan seorang gadis kecil berusia 7 tahun yang tersesat di sebuah kota besar. Dengan cemas anak itu berlari mondar-mandir di beberapa ruas jalan, mencari tempat yang ia kenal. Seorang polisi melihatnya, menyadari kesulitan anak itu, dan menawarkan bantuan. Anak itu masuk ke mobil, dan sang polisi menjalankan mobilnya pelan-pelan menyusuri daerah itu. Tiba-tiba si anak menunjuk sebuah gereja dan minta turun dari mobil. Ia meyakinkan polisi itu, “Ini gereja saya. Saya selalu bisa menemukan jalan pulang dari sini.”

Banyak orang berpikir gereja adalah lembaga kuno yang tak lagi relevan dengan dunia modern. Namun, saya yakin gereja yang setia mengajarkan Alkitab dan mewartakan kabar baik keselamatan melalui Kristus benar-benar memberi apa yang semua kita butuhkan untuk “menemukan jalan pulang”.

Apabila gereja kita menjalankan fungsi yang diberikan Allah, maka para jemaatnya akan dengan rendah hati melayani dan memerhatikan satu sama lain, saling mendorong untuk mengikuti teladan Kristus (Filipi 2:1-11). Kelompok jemaat ini, lewat kata-kata dan hidupnya, juga menjadi penunjuk jalan bagi dunia yang tersesat menuju Yesus. Mereka melayani “seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan” (ayat 15,16).

Gereja yang mengajarkan kebenaran tentang Kristus tak hanya relevan, tetapi juga sangat dibutuhkan dalam dunia kita ini. Gereja ini dapat menolong orang-orang dari sepanjang zaman untuk menemukan jalan pulang ke rumah mereka – VG

 

GEREJA MENOLONG ORANG TERSESAT MENEMUKAN

JALAN PULANG APABILA CAHAYANYA BERSINAR TERANG

 

 

Roma 9:1-5

 

BERIKAN HATI ANDA

Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku,

kaum sebangsaku secara jasmani

(Roma 9:3)

 

Felipe Garza berusia 15 tahun ketika mendonorkan jantungnya. Kekasihnya Donna Ashlock sakit keras dan perlu transplantasi jantung. Suatu hari Felipe mengatakan hal yang aneh kepada ibunya, “Aku akan mati, dan akan memberikan jantungku kepada kekasihku.” Tiga minggu kemudian, ia meninggal secara tiba-tiba karena pembuluh darah di otaknya pecah. Dokter mengambil jantung Felipe dan mencangkokkannya pada tubuh Donna, untuk menyelamatkan nyawanya.

Cinta pemuda itu kepada kekasihnya menggambarkan harapan Paulus terhadap saudara-saudara sebangsanya kaum Yahudi. Ia pun mengatakan akan memberikan hidupnya agar orang lain memperoleh hidup. Yang dimaksudkan Paulus adalah kehidupan kekal. Ia mengatakan bahwa jika mungkin (walau ia tahu itu tidak mungkin), ia rela kehilangan keselamatan kekalnya jika itu dapat menyelamatkan orang-orang yang sangat ia kasihi (Roma 9:3).

Sekalipun Paulus ingin menyelamatkan orang-orang yang dikasihinya dari keterpisahan kekal dengan Kristus, ia tak dapat menanggung maut bagi orang-orang sebangsanya. Namun, ungkapan kasihnya mengingatkan kita akan tindakan Yesus Kristus. Dia benar-benar menanggung maut bagi kita. Dia bahkan mengurbankan hidup-Nya agar kita beroleh hidup.

Tuhan, kami tahu, kami tidak bisa mengurbankan nyawa untuk menyelamatkan orang lain. Namun dengan Roh-Mu, beri kami kasih untuk lebih mempedulikan kesejahteraan kekal orang lain daripada hanya mempedulikan kesenangan sementara bagi hidup kami sendiri. bagi-Mu dan mereka, kami memberikan hati kami – MH

 

MEREKA YANG MENGASIHI KRISTUS

MEMBERIKAN HATI UNTUK ORANG-ORANG YANG TERHILANG

 

 

Lukas 12:13-21

 

BEPERGIAN TANPA BEBAN

Apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?

(Lukas 12:20)

 

Banyak pelancong membawa barang bawaan yang berlebih sewaktu liburan. Mereka membawa sepatu, pakaian, dan barang lebih dari yang mereka butuhkan. Mereka berpikir, “Lebih baik saya membawa semua yang diperlukan karena nantinya saya tidak dapat pulang lagi untuk mengambilnya.” Padahal, beban mereka akan berkurang jika mereka bertanya, “Seberapa banyak barang yang dapat saya tinggal?” Akibatnya, mereka sibuk membawa kopor yang lebih berat daripada semestinya. Sebagian orang bahkan membeli banyak barang baru saat liburan itu sehingga harus meninggalkan sebagian milik mereka sendiri di hotel.

Kita cenderung mengumpulkan terlalu banyak harta dalam perjalanan hidup kita. Kita dibombardir oleh iklan-iklan yang mendorong kita untuk membeli barang-barang yang “tanpanya kita tidak dapat hidup”. Akibatnya, kita membeli lebih, dan lebih banyak barang lagi.

Orang kaya dalam perumpamaan Yesus (Lukas 12:13-21) mungkin telah memimpikan semua barang bagus yang dapat diperoleh karena hasil panennya berlimpah. Ia mengatakan akan mendirikan lumbung yang lebih besar, dan menghabiskan waktu untuk makan, minum, dan bersenang-senang. Namun, Allah berfirman kepadanya, “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti?” (ayat 20).

Prinsipnya jelas: jadilah “kaya di hadapan Allah”, bukan kaya harta (ayat 21). Di samping itu, Anda harus meninggalkan semua itu jika tiba waktunya untuk pulang ke Rumah yang kekal – DE

 

 

Filipi 4:1-7

 

INIKAH SAAT UNTUK BERDOA?

Tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa

dan permohonan dengan ucapan syukur

(Filipi 4:6)

 

Saat menghadapi cobaan, banyak orang sering memutuskan untuk menjadikan doa sebagai usaha terakhir. Saya mengenal seorang pria yang sedang berjuang mati-matian melawan kanker. Ketika orang-orang melihat kanker itu berangsur-angsur memperburuk tubuh dan gaya hidupnya, seseorang berkata, “Ya, mereka telah mencoba segalanya. Saya kira inilah saatnya untuk mulai berdoa.”

Seorang pria lain sedang menghadapi masa-masa yang sangat sulit dalam pekerjaan. Itu merupakan krisis besar yang sangat berpengaruh terhadap dirinya dan masa depan perusahaannya. Ia tidak mampu menyelesaikannya. Akhirnya ia berkata, “Saya telah mencoba segala yang saya ketahui untuk keluar dari situasi ini, tetapi tak ada yang berhasil. Ini saatnya untuk mulai berdoa.”

Dalam kedua contoh di atas, doa telah dipandang sebagai jalan keluar terakhir untuk mengatasi masalah. Hanya setelah pilihan-pilihan lain tersisihkan, maka orang mengambil keputusan untuk berdoa. Doa akhirnya menjadi usaha terakhir ketika sudah tidak ada jalan lain.

Doa seharusnya merupakan tindakan pertama yang kita lakukan, bukannya tempat pelarian terakhir. Tuhan menjawab doa, dan Dia ingin agar kita senantiasa datang kepada-Nya dengan membawa seluruh kebutuhan kita (1Tesalonika 5:17). Alkitab mengatakan kepada kita “janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa” (Filipi 4:6). Jadi, jangan menunggu lagi. Setiap waktu adalah saat yang tepat untuk berdoa – DE

 

DOA HENDAKNYA MERUPAKAN LANGKAH AWAL

BUKANNYA TEMPAT PELARIAN TERAKHIR KITA

 

 

1 Tawarikh 13

 

MENUNJUKKAN RASA HORMAT

Takut akan Tuhan adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut

(Amsal 14:27)

 

Di Myanmar (Birma), anak-anak diajar untuk menggunakan kedua tangan bila memberi sesuatu kepada orangtua atau orang yang lebih tua. Saya tinggal di Singapura, dekat negara itu, dan saya tahu bahwa di Asia tidak sopan bila menyerahkan sebuah kartu nama dengan satu tangan saja. Dan sangat kasar bila seseorang melemparkan kartu itu ke atas meja penerimanya. Untuk menunjukkan rasa hormat, saya harus menyerahkannya dengan kedua tangan.

Dalam 1 Tawarikh 13, kita melihat betapa pentingnya menunjukkan rasa hormat kepada Allah. Daud sebenarnya berniat baik ketika memutuskan untuk mengembalikan tabut Allah ke Yerusalem. Namun, selama proses pemindahan, Uza menyentuh tabut itu supaya tidak terjatuh dari kereta. Dan Allah menyambarnya sehingga mati. Daud tercengang dan sakit hati karena kemarahan Allah. Mengapa Tuhan menanggapi hal itu demikian keras?

Akhirnya Daud sadar bahwa apa yang ingin ia lakukan untuk Allah harus dilakukan dengan hormat dan sesuai dengan petunjuk khusus-Nya. Allah telah memerintahkan agar tabut Allah itu diangkat oleh anak-anak Kehat dengan kayu pengusungnya, bukan dengan kereta, dan tak seorang pun boleh menyentuhnya (Keluaran 25:14,15; Bilangan 3:30,31; 4:15).

Apa yang dipelajari Daud adalah sesuatu yang juga perlu kita tanamkan dalam hati. Menunjukkan rasa hormat kepada Allah berarti belajar mengetahui apa yang Dia ingin kita lakukan dan kemudian sungguh-sungguh menaati-Nya. Untuk menyenangkan Tuhan, kita harus melakukan pekerjaan-Nya sesuai kehendak-Nya – AL

 

KITA MENGHORMATI ALLAH BILA KITA MENAATI-NYA

 

 

Zakharia 7

 

PERSEMBAHAN KETAATAN

Bukankah ini firman yang telah disampaikan Tuhan?

(Zakharia 7:7)

 

Di sepanjang bulan ini orang lebih banyak berpikir tentang Allah dan perbuatan baik. Kelihatannya semakin dekat dengan hari Natal, kita semakin dapat menyaksikan orang-orang yang memiliki kerinduan untuk mengungkapkan perhatian pada hal-hal religius. Dengan demikian, pengunjung gereja semakin meningkat jumlahnya, dan kegiatan di gereja semakin padat.

Apakah peningkatan kegiatan religius ini menunjukkan penghormatan kepada Tuhan? Kita perlu berhati-hati agar tidak mengulangi apa yang dilakukan oleh orang-orang pada zaman Zakharia. Meskipun terlibat dalam kegiatan religius, mereka hanya ingin menyenangkan diri sendiri. Unsur yang terpenting telah hilang, yaitu ketaatan kepada Allah.

Allah tidak ingin mereka melakukan ritual kosong. Dia ingin mereka menyatakan ketaatan kepada-Nya dengan cara:

(1)  melaksanakan hukum yang benar,

(2)  menunjukkan kesetiaan dan kasih sayang,

(3) tidak menindas janda, yatim piatu, orang asing, orang miskin.

(4) tidak merancang kejahatan dalam hati terhadap sesama (Zakharia 7:9,10).

Kita dapat menyatakan penghormatan terbaik kepada Allah selama waktu-waktu yang istimewa ini dengan meninjau kembali pengabdian kita kepada-Nya melalui empat perintah Allah terhadap umat-Nya tersebut. Tuhan tidak ingin kegiatan religius kita kosong dan hanya berpusat pada diri sendiri. Dia menginginkan persembahan ketaatan yang dinyatakan dalam tindakan yang menunjukkan kebaikan hati dan kerelaan untuk menolong mereka yang tidak seberuntung kita – DB

 

KEBAIKAN HATI TAK PERNAH MENGENAL MUSIM

 

 

1 Yohanes 1:5-9

 

SUNGAI PENGAMPUNAN

Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil,

sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan

(1Yohanes 1:9)

 

Menurut salah satu mitos Yunani, Raja Augeus mempunyai sebuah kandang berisi 3.000 sapi jantan. Kandang tersebut tidak pernah dibersihkan selama 30 tahun. Karena itu kata Augean dalam bahasa Inggris menunjuk pada sesuatu yang sangat kotor karena lama diabaikan. Hercules, orang yang sangat kuat dalam mitos itu, diperintahkan untuk membersihkan kandang Augean hanya dalam satu hari.

Ketika pertama kali melihat kandang itu, Hercules menjadi berkecil hati karena kandang itu begitu luas, jorok, dan berbau busuk. Kemudian ia memerhatikan bahwa kandang itu terletak di antara dua sungai besar, yaitu sungai Alpheus dan sungai Peneus. Ia mengerahkan kekuatan raksasanya untuk bekerja dan membelokkan kedua sungai itu sehingga mengaliri bangunan tersebut. Dalam waktu singkat, kandang itu tercuci bersih.

Cerita ini tentu saja hanya mitos. Namun mitos, dengan sifatnya yang sangat alami, melestarikan kerinduan suatu budaya yang menganut dan mengabadikannya. Saya yakin, cerita ini mencerminkan kerinduan kita akan seseorang yang bersedia membersihkan kehidupan kita dari timbunan sampah dan kotoran yang menumpuk selama bertahun-tahun.

Ada sungai pengampunan yang penuh kuasa, yang mengalir dari salib Kristus. Tak satu pun kotoran, yang paling kotor sekalipun, yang dapat bertahan terhadap aliran pembersihan itu. Apabila kita dengan rendah hati mengakui dosa-dosa kita, maka semua kesalahan kita akan dihapuskan (1Yohanes 1:9). Kita dapat percaya bahwa dosa kita “yang banyak itu telah diampuni” (Lukas 7:47) – DR

 

PENGAKUAN KEPADA ALLAH

SELALU MEMBAWA PENYUCIAN DARI-NYA

 

 

Kolose 3:12-17

 

DIAMPUNI CUMA-CUMA

Apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain,

sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian

(Kolose 3:13)

 

Apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian (Kolose 3:13)

Penelitian sejumlah psikolog menunjukkan bahwa yang membuat orang bahagia bukanlah kekayaan berlimpah, melainkan persahabatan dan pengampunan. Marilyn Elisa mengomentari temuan ini dalam USA Today, “Orang yang paling bahagia dikelilingi saudara dan teman-teman, tidak punya masalah dengan tetangga, sibuk dengan kegiatan sehari-hari, dan yang terpenting, mudah mengampuni.”

Christopher Peterson, psikolog dari Universitas Michigan mengatakan bahwa kemampuan untuk mengampuni orang lain merupakan karakter yang sangat berkaitan dengan kebahagiaan. Ia menyebutnya “ratu semua kebajikan, dan mungkin yang paling sulit dicapai”.

Jiwa yang tidak mau mengampuni acap kali merupakan benteng emosi terakhir yang kita pasrahkan dalam kuasa Allah. Walaupun kita adalah orang kristiani, kita mungkin menyimpan kemarahan dan kepahitan, merasa bahwa setiap orang yang berbuat salah kepada kita harus menderita karena kejahatan mereka. Namun, apabila kita menyadari bahwa Allah telah banyak mengampuni kita, maka kita wajib meneruskan belas kasih tersebut kepada sesama. Alkitab menyarankan kita untuk mengenakan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran, … sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kolose 3:12,13).

Mengampuni adalah perintah Allah bagi kita dan merupakan bagian dari hidup yang penuh kasih, damai, syukur, dan pujian (ayat 14-16). Sebagaimana kita telah diampuni dengan cuma-cuma, maka hendaklah kita juga melakukannya kepada sesama  – DC

 

 

Matius 5:11-16

 

MASUK KE “REBUSAN”

Kamu adalah garam dunia

(Matius 5:13)

 

Benda ini sering dijumpai, murah, dan digunakan di seluruh dunia. Benda ini telah menimbulkan banyak peperangan, mendorong pembangunan rute-rute perdagangan, dan berguna untuk membayar gaji para tentara. Kini benda itu lebih banyak digunakan sebagai bahan pengawet dan penyedap rasa. Benda apakah itu? Benda itu adalah zat berbentuk kristal yang kita sebut garam.

Yesus, Seorang yang ahli menggunakan hal-hal biasa untuk menjelaskan realitas rohani, berbicara soal garam ketika Dia sedang mengajar murid-murid-Nya tentang bagaimana melayani sebagai wakil kerajaan-Nya. Dia berkata, “Kamu adalah garam dunia” (Matius 5:13).

Jika kita menganggap garam sebagai bahan pengawet, dapat diperkirakan bahwa Yesus menginginkan agar kita mencegah kemerosotan moral yang terjadi dalam masyarakat kita. Dan apabila kita memikirkan fungsi garam untuk menyedapkan rasa, maka kita dapat meyakini bahwa Dia ingin agar kita menolong sesama untuk menemukan sukacita ketika mereka mengenal dan hidup bagi-Nya.

Garam yang hanya tersimpan di rak penyimpanan tidak dapat memenuhi fungsinya. Sama halnya jika kita tidak berusaha secara aktif untuk membagikan kebenaran Allah yang mengubah kehidupan, maka sebenarnya kita tidak melayani sebagai garam rohani. Bagaimanapun, tempat bagi garam adalah dalam “rebusan” aktivitas manusia. Daripada hanya mengkritik kemerosotan kebudayaan kita dan datarnya kehidupan yang dijalani banyak orang, marilah kita masuk ke dalam “rebusan”, karena kita adalah garam dunia – VG

 

SEORANG KRISTIANI YANG MENJADI GARAM

MEMBUAT ORANG LAIN HAUS AKAN YESUS SANG AIR KEHIDUPAN

 

 

Matius 7:1-5

 

SALAH SIAPA ?

Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu

(Matius 7:5)

 

Seorang pria dari North Carolina menuduh istrinya yang tinggal jauh darinya telah menikah dengan pria lain. Ketika wanita tersebut ditangkap, ia tidak menyangkal telah menikahi dua orang pria. Ia tidak saja mengakui kesalahannya, tetapi juga memberi tahu para pihak yang berwenang bahwa ia mungkin kurang waras karena menikah dua kali tanpa bercerai atau menjanda.

Namun, itu baru sebagian dari kisah yang sebenarnya. Wanita itu mengatakan bahwa ia terkejut suaminya telah melaporkannya, karena sebenarnya suaminya juga melakukan pelanggaran yang sama. Ketika tuduhan balasan ini ditelusuri, sang suami akhirnya mengaku bahwa ia juga telah menikah dengan dua orang wanita secara tidak resmi.

Suami ini adalah contoh dari apa yang digambarkan Yesus dalam Matius 7:1-5. Sekalipun ada “balok” di matanya sendiri, pria ini menunjuk dengan penuh penghakiman pada “selumbar” di mata istrinya. Mereka berdua telah melanggar hukum karena menikah dengan dua orang pada waktu yang sama. Namun, dosa sang suami sebenarnya lebih besar karena dengan angkuh ia berpikir bahwa ia dapat meloloskan diri dari hukuman dengan menghakimi orang lain yang melakukan dosa yang juga diperbuatnya.

Pesan dalam kisah ini sangat jelas. Kristus menunjukkan belas kasih-Nya ketika kita mengaku dosa. Namun, Dia mencela kemunafikan dan keangkuhan kita ketika kita menolak untuk merendahkan diri di hadapan-Nya. Marilah kita membereskan dosa kita sendiri, dan jangan menjadi orang yang pandai menghakimi dosa orang lain – MH

 

KEBANYAKAN KITA TIDAK CEPAT MENYADARI DOSA

KITA MELIHAT DOSA ORANG LAIN TETAPI TIDAK MELIHAT DOSA SENDIRI

 

 

Yakobus 1:19-25

 

MENIPU DIRI SENDIRI

Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja;

sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri

(Yakobus 1:22)

 

Seorang anak diberi tahu ibunya, “Bercerminlah, lalu cuci wajahmu.” Namun anak itu membantah, “Saya sudah bercermin!” Ibunya kemudian menjawab, “Kamu telah menipu dirimu sendiri!” Wajahnya yang masih kotor menandakan bahwa jika ia memang sudah bercermin, maka tentulah ia mengabaikan apa yang telah dilihatnya di cermin. Ia pasti sudah melihat keadaan dirinya yang sebenarnya, tetapi kotoran di wajahnya tidak dibersihkannya.

Rasul Yakobus mengajar bahwa siapa pun yang mendengar firman Allah tetapi tidak menaatinya, berarti telah menipu diri sendiri. Ia seperti seseorang yang melihat wajahnya di cermin, lalu pergi dan lupa bagaimana rupanya (Yakobus 1:22-24). Ia mendengar dan membaca firman Allah, tetapi mengabaikan dan tidak mengizinkan firman Allah mengubah hidupnya. Orang yang bercermin pada firman Allah dan rindu untuk berubah, “bukan hanya mendengar untuk melupakannya” (ayat 25). Ia rindu firman itu mengungkapkan hasrat hatinya yang sebenarnya, dan menunjukkan kebenaran yang perlu ia taati. Dan jika ia taat, maka secara berangsur-angsur ia akan menyerupai Yesus. Yakobus mengatakan bahwa orang yang demikian “akan berbahagia oleh perbuatannya” (ayat 25).

Jika kita benar-benar rindu untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus dalam sikap, perbuatan, dan tanggapan kita, maka kita perlu mengaca pada cermin Allah secara teratur, yaitu Alkitab. Namun, janganlah menipu diri sendiri, karena melihat saja tidak cukup. Firman Allah akan mengubah diri kita, hanya jika kita menaatinya – J

 

BUKALAH ALKITAB ANDA DENGAN BERDOA,

BACALAH DENGAN TELITI, DAN TAATILAH DENGAN SUKACITA

 

 

Maleakhi 1:6-14

 

STRATEGI BERBELANJA

Kamu membawa binatang yang dirampas, binatang yang timpang dan binatang yang sakit ….

Akan berkenankah Aku menerimanya dari tanganmu? firman Tuhan

(Maleakhi 1:13)

 

Aku tidak suka kepada kamu.” Ini adalah kemarahan Tuhan yang luar biasa kepada umat-Nya yang disampaikan melalui Nabi Maleakhi (ayat 1:10). Allah murka terhadap cara penyembahan mereka yang ceroboh dan hina. Binatang-binatang yang mereka persembahkan tidak layak di hadapan-Nya, karena binatang-binatang tersebut bukanlah ternak dan piaraan yang terbaik. Sebaliknya, mereka justru mempersembahkan binatang rampasan, yang timpang, dan yang sakit (ayat 13).

Kendati kita tidak menunjukkan sikap penghinaan kepada Allah seperti itu, kadang kala kita begitu acuh tak acuh dalam melakukan penyembahan. Teman saya mengamati hal itu dalam dirinya sendiri: “Ketika saya berbelanja barang-barang yang biasa seperti sabun atau mentega, saya tidak terlalu memikirkannya. Namun, saat mencari sebuah blus yang serasi dengan rok saya, saya akan memilih dengan sangat hati-hati. Saya berpindah dari satu toko ke toko yang lain sampai benar-benar menemukan apa yang saya cari.” Kemudian ia berkata dengan penuh pengertian, “Seharusnya saya melakukan hal yang sama saat menyembah Allah. Namun, terkadang saya menghampiri Allah sama santainya seperti saat membeli sekotak tisu.”

Selama ibadah di gereja, mungkin kita tidak sungguh-sungguh memperhatikan Allah. Kita datang terlambat. Pikiran kita melayang ke mana-mana. Kita perlu mendisiplinkan pikiran agar tidak terpusat pada masalah-masalah hari kemarin atau tanggung jawab hari esok. Saat kita menyembah Tuhan dengan sepenuh hati, Dia akan bergembira karena kita – DE

PENYEMBAHAN YANG SEJATI

ADALAH PENYEMBAHAN SETULUS HATI

 

 

1 Yohanes 5:1-13

 

KEBEBASAN DALAM STRUKTUR

Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya.

Perintah-perintah-Nya itu tidak berat

(1Yohanes 5:3)

 

Pianis konser Jeannette Haien percaya bahwa struktur komposisi musik yang baik sebenarnya memberikan kebebasan yang besar bagi orang yang memainkannya. “Dalam keterbatasan tatanan musik,” katanya, “terdapat seluruh kebebasan untuk berekspresi.”

Kita mudah merasa terkungkung oleh struktur dalam iman kita karena secara alami kita memiliki sifat perlawanan terhadap berbagai aturan. Namun, perintah-perintah Allah diberikan justru untuk meningkatkan kualitas hidup kita, bukannya untuk membatasi.

Ayat 1 Yohanes 5:3 menyatakan, “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.” Perintah-perintah-Nya itu tidak memberatkan, tetapi justru melindungi kita dari beban dosa. Jika menuruti perintah-perintah-Nya, kita akan mengalami kebebasan.

Berbicara mengenai komposisi musik yang bagus, Jeannette Haien berkata, “Dalam aturan-aturan struktur, Anda memiliki kebebasan untuk bekerja dengan cara paling bebas yang dapat Anda bayangkan. Namun, apa yang sudah ditulis [komposer], itulah yang saya hormati.”

Alkitab adalah lembar partitur kehidupan kita. Hari ini kita dapat memainkan nyanyian kehidupan sesuai dengan yang telah dituliskan oleh Allah. Dan kita dapat menemukan janji Yesus yang baru bagi mereka yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:31,32) – DC

 

KEBEBASAN SEJATI ADA DALAM KETAATAN KEPADA KRISTUS

 

 

Matius 18:15-20

 

MARI KITA BICARAKAN!

Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau!

Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu

(Amsal 3:3)

 

Kepolisian San Diego menerima keluhan dari seorang wanita yang mengatakan bahwa ia menerima beberapa panggilan telepon yang mengganggu. Pada tengah malam seseorang meneleponnya, dengan menirukan suara anjing menggonggong, dan kemudian menutup telepon. Akhirnya polisi menemukan bahwa telepon itu berasal dari tetangga wanita tersebut. Tetangga itu mengatakan bahwa setiap kali ia terbangun karena gonggongan anjing wanita tersebut, ia ingin memastikan bahwa wanita itu juga terbangun.

Tindakan yang dilakukan sang tetangga itu sama sekali tidak menunjukkan hikmat Allah. Alkitab mengajarkan agar kita menghadapi masalah secara langsung (Matius 18:15-20). Sebuah pembicaraan yang jujur pada saat yang tepat dan demi semua pihak yang terlibat, merupakan suatu penyelesaian masalah.

Namun, tindakan yang penuh kasih dan terbuka seperti itu tidak selalu dilakukan orang kristiani. Kita cenderung untuk “bermain-main” daripada memercayai Allah dan melewati situasi tegang dengan hati nurani yang bersih serta hasrat untuk berdamai. Tanda-tanda diabaikan. Kasih sayang disembunyikan. Percakapan menjadi singkat. Suasana menjadi dingin, dan kebekuan situasi ini hanya dapat dicairkan oleh perpaduan yang bijak antara belas kasih dan kebenaran (Amsal 3:3).

Keluhan kita terhadap sesama tidak dapat dihilangkan begitu saja dengan mengubur kemarahan. Jika sebuah masalah tidak cukup kecil untuk dilupakan dengan tulus hati, maka marilah kita membicarakannya – MH

 

CARA TERBAIK UNTUK MENGALAHKAN MUSUH ANDA

ADALAH MENJADIKANNYA TEMAN ANDA

 

 

Kolose 3:1-11

 

PUSAT PERHATIAN

Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi

(Kolose 3:2)

 

Seorang pilot misionaris bernama Bernie May menulis, “Pelajaran tersulit yang diajarkan kepada para pilot baru mengenai pendaratan di landasan yang pendek dan berbahaya adalah menjaga pandangan mereka supaya terus tertuju pada bagian landasan yang baik, dan bukannya memerhatikan bagian yang rusak. Kecenderungan alami kita adalah memerhatikan halangan, bahaya, serta hal-hal yang ingin dihindari. Namun pengalaman mengajarkan kita bahwa pilot yang memerhatikan hal-hal yang berbahaya, cepat atau lambat akan menuju pusat kehancuran.”

Pelajaran ini membuat saya berpikir mengenai prinsip-prinsip rohani di dalam Alkitab. Daripada memusatkan perhatian pada dosa-dosa yang ingin kita hindari, kita diajar untuk memusatkan perhatian pada perbuatan-perbuatan baik yang Kristus harapkan dari kita. Paulus memberi tahu umat kristiani di Kolose demikian, “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi” (Kolose 3:2). Kita akan menyingkirkan cara lama dalam berpikir dan bertindak (ayat 5-9), serta “mengenakan” cara hidup yang baru (ayat 10-17).

Bernie May membuat kesimpulan dengan mengatakan bahwa pilot yang berpengalaman memusatkan perhatian secara penuh pada jalur pendaratan yang mereka inginkan, sedangkan bahaya atau risiko yang ada tidak banyak mendapat perhatian.

Ketika Kristus dan kehendak-Nya menjadi pusat hidup kita, maka daya tarik kehidupan lama tidak menjadi pusat perhatian kita karena tujuan kita adalah mendarat tepat di pusat kehendak Allah  – DC

 

ORANG YANG MATANYA TERTUJU PADA SURGA

TIDAK AKAN DIKACAUKAN OLEH PERKARA DUNIAWI

 

 

2 Korintus 5:1-10

 

BERSAMA ALLAH SELAMANYA

Jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di surga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal

(2Korintus 5:1)

 

Saat itu Melissa sedang menikmati liburan musim panas kenaikan kelas dari kelas satu ke kelas dua SMU. Ia dan temannya, Mandy, sedang berada di luar kota dalam suatu perjalanan darmawisata bersama teman-temannya. Suatu malam mereka terlibat dalam suatu diskusi serius di dalam kamar hotel. Mereka baru saja menyaksikan sebuah berita di saluran Televisi tentang kematian beberapa orang remaja akibat kecelakaan, dan mereka mulai membicarakan topik tentang kematian.

Melissa berkata kepada Mandy bah-wa ia tidak mengerti mengapa orang kristiani takut pada kematian. Bagaimanapun juga, katanya, ketika seorang kristiani meninggal maka ia akan “bersama Allah selamanya”. Apakah ada yang lebih baik dari hal itu? Melissa tak habis pikir.

Bagaimana mungkin kami dapat mengetahui percakapan ini? Mandy menceritakannya kepada kami tidak lama setelah meninggalnya putri kami tercinta, Melissa, pada umur 17 tahun, dalam sebuah kecelakaan mobil pada tahun 2002. Cerita ini membuat kami terhibur karena melaluinya kami senantiasa diingatkan bahwa Melissa tahu bahwa dirinya telah diselamatkan, dan ia yakin akan melewatkan kekekalan bersama Juruselamatnya. Kami hanya tidak me-nyangka bahwa ia akan “bersama Allah selamanya” dalam waktu secepat itu, dan dalam usia yang masih sangat muda.

Apakah Anda memiliki keyakinan yang sama seperti Melissa, bahwa saat meninggal Anda akan berada dalam hadirat Allah selamanya? (2Korintus 5:6-8). Pastikan keselamatan Anda hari ini juga. Maka Anda tidak lagi takut pada kematian – DB

 

JIKA ANDA MENYEDIAKAN RUANG BAGI YESUS DI HATI ANDA

MAKA DIA AKAN MENYEDIAKAN RUANG BAGI ANDA DI SURGA

 

 

Pengkhotbah 2:1-11

 

BEKERJA: SUATU CANDU

Hatiku bersukacita karena segala jerih payahku ….

Lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin

(Pkb 2:10,11)

 

Seorang kawan menceritakan kepada saya bahwa ia merasa sangat dekat dengan Allah pada saat-saat tersibuknya. Ia menjelaskan bahwa ketika tuntutan begitu berat, saat itulah ia bersandar penuh pada kekuatan Tuhan. Ia menegaskan bahwa jika ia tidak meluangkan waktu untuk berdoa setiap hari, maka pekerjaannya hanya akan menjadi suatu pelarian belaka.

Banyak orang terlibat dalam aktivitas semata-mata demi aktivitas itu sendiri dan menggunakan kesibukan sebagai alat untuk menghindar dari kenyataan. Sebagaimana alkohol dapat mematikan kesadaran pada hubungan pribadi, kewajiban keluarga, dan tanggung jawab dalam masyarakat, pekerjaan juga dapat menjadi candu yang akan mematikan kepekaan kita terhadap masalah hidup yang lebih rumit.

Kira-kira 3.000 tahun yang lalu, penulis kitab Pengkhotbah menyadari hal ini. Ia mencari kepuasan dengan menyibukkan diri membangun rumah-rumah serta menanam kebun anggur. Namun ketika merenungkan pekerjaan yang telah dilakukannya, ia menyadari bahwa semuanya itu sia-sia belaka (ayat 2:10,11).

Kita dapat melakukan kesalahan yang sama, bahkan dalam nama Tuhan. Mungkinkah itu juga merupakan suatu alasan mengapa sebagian dari kita menjalankan aktivitas gereja dengan usaha sendiri, dan lupa bahwa kepenuhan hanya berasal dari hati yang dipenuhi oleh Allah? Apakah kita bekerja tanpa meluangkan waktu yang amat penting untuk beribadah dan merenung? Jika demikian, inilah saatnya kita menyembah Allah sebelum terperangkap dalam pekerjaan yang semata-mata demi pekerjaan itu sendiri – MH

 

JANGAN PERNAH BEKERJA LEBIH KERAS

JIKA ANDA TIDAK BANYAK BERDOA

 

 

Matius 5:1-10

 

MENCARI KEBAHAGIAAN

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga

(Matius 5:3)

 

Setiap orang mencari kebahagiaan, dan orang menempuh banyak jalan untuk mencoba menemukannya. Mereka mencarinya melalui uang, pesta pora, program pengembangan diri, mobil bagus, rumah mewah, atau pencapaian suatu tujuan.

Itu adalah daftar yang salah. Daftar yang benar dapat dijumpai dalam Matius 5. Yesus mengajar kita bahwa kebahagiaan yang terdalam dan tak pernah habis, diperoleh karena mempunyai hubungan baik dengan Allah. Dia berkata bahwa kita diberkati, atau berbahagia, ketika kita:

*Miskin di hadapan Allah – mengenali kebutuhan yang mendalam akan Allah.

*Berdukacita – menyadari keburukan dosa dan benar-benar bertobat karenanya.

*Lemah lembut – menunjukkan pengendalian diri, bahkan apabila kita diperlakukan tidak adil.

*Lapar dan haus akan kebenaran – rindu untuk menjadi kudus dan murni.

*Murah hati – menunjukkan kemurahan kepada orang lain, sama seperti Allah menunjukkan kemurahan hati-Nya kepada kita.

*Suci hatinya – berlaku setia dan sungguh-sungguh dalam penyembahan kita kepada Kristus.

*Pembawa damai – membagikan kedamaian yang ditawarkan oleh Kristus, dan mengusahakan damai dengan orang lain.

*Dianiaya – rela menderita demi Kristus.

Anda sedang mencari kebahagiaan? Ikutilah cara Yesus  – DB

 

KEBAHAGIAAN TERGANTUNG PADA SIAPA DIRI ANDA

BUKAN PADA APA YANG ANDA MILIKI

 

 

Wahyu 22:1-5

 

AKTIVITAS DI SURGA

Hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, dan mereka akan melihat wajah-Nya,

dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka

(Wahyu 22:3,4)

 

Terkadang saya bertanya apa yang akan kita lakukan di surga. Apakah kita akan duduk di awan dan memetik harpa surgawi? Apakah kita akan terbang dengan sayap kain yang halus? Dalam penglihatannya, Yohanes menyaksikan tiga kegiatan di surga kelak.

Yang pertama adalah melayani (Wahyu 22:3). Mungkin kita akan menjelajah sudut jagat raya yang tak terbatas, atau seperti kata C. S. Lewis, memerintah bintang yang sangat jauh. Apa pun pelayanan yang diperintahkan bagi kita, takkan ada rasa kekurangan, kelemahan, dan keletihan. Di surga kita akan memiliki pikiran dan tubuh yang setara dengan tugas yang dirancang bagi kita.

Aktivitas kedua adalah memandang: Kita akan “memandang wajah-Nya” (ayat 4). “Sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar” (1Korintus 13:12), tetapi di surga kita akan melihat wajah Juruselamat kita, dan kita “akan menjadi sama seperti Dia” (1Yohanes 3:2). Ini yang dimaksud dalam Wahyu 22:4, “Nama-Nya akan tertulis di dahi mereka.” Nama Allah menyatakan kepribadian-Nya yang sempurna. Jadi, menyandang nama-Nya berarti menjadi seperti Dia. Di surga kita takkan bergumul dengan dosa lagi, tetapi akan mencerminkan keindahan dari kekudusan-Nya selamanya.

Yang terakhir adalah memerintah. Kita akan melayani Raja kita dengan memerintah dan bertakhta bersama Dia “selama-lamanya” (ayat 5).

Apakah yang akan kita lakukan di surga? Kita akan melayani Allah, memandang Juruselamat kita, dan memerintah bersama Dia selamanya. Kita akan sibuk! – DR

 

MEREKA YANG MENGASIHI DAN MELAYANI ALLAH DI BUMI

AKAN MERASA BETAH DI SURGA

 

 

Imamat 19:15-18

 

TES KRITIK

Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah

(Amsal 27:6)

 

Setelah selesai berkhotbah tentang karunia-karunia rohani, sang pendeta disambut seorang wanita di pintu depan gereja. Wanita itu berkata, “Pak Pendeta, saya yakin bahwa saya memiliki karunia untuk mengkritik.”

Sang pendeta berkata, “Apakah Anda ingat orang yang memiliki satu talenta dalam perumpamaan Yesus? Ingatkah Anda apa yang dilakukannya dengan satu talenta itu?”

“Ya,” jawab wanita itu, “ia pergi dan mengubur talentanya” (Matius 25:18).

Sang pendeta tersenyum dan berkata, “Pergi dan lakukanlah hal yang sama!”

Kritik yang tidak disampaikan dengan kasih dan keinginan tulus untuk menolong, dapat menjadi kritik yang kejam dan menghancurkan. Imamat 19:17 menuliskan, “Engkau harus berterus terang menegur orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.” Kata-kata ini didahului peringatan agar tidak menebar fitnah dan memelihara kebencian.

Anda dapat menentukan kapan perlu dan tidak perlu mengkritik, dengan menanyakan tiga pertanyaan berikut kepada diri Anda:

1.  Apakah motivasi saya adalah untuk menolong orang lain?

2.  Apakah saya akan berterus terang, tetapi dengan lembut?

3. Apakah saya melakukan hal ini untuk Tuhan, atau karena saya senang mengkritik?

Jika tujuan Anda untuk menolong, motivasi Anda untuk mengasihi, dan kerinduan Anda untuk menyenangkan Allah, maka Anda boleh mengkritik. Namun jika Anda tidak melewati ketiga tes tersebut, jangan berkata apa pun – RH

 

ORANG YANG BERHAK MENGKRITIK ADALAH ORANG YANG

PUNYA HATI UNTUK MENOLONG – ABRAHAM LINCOLN

 

 

Ibrani 4:14-16

 

SEBELAH ATAS TERBUKA

Kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah

(Ibrani 4:14)

 

Seorang pendeta sedang berkhotbah di hadapan banyak jemaat. Ia menandaskan bahwa menjadi orang percaya tidak berarti bebas dari persoalan. Pada kenyataannya, sebagian orang kristiani dikelilingi persoalan; persoalan di sebelah kanan, di sebelah kiri, depan, maupun belakang. Menanggapi hal itu, seorang pria yang telah melayani Tuhan selama bertahun-tahun berseru, “Terpujilah Allah, karena sebelah atas selalu terbuka!”

Rasa percaya kepada Allah yang dimiliki pria tersebut sangat sesuai dengan Ibrani 4. Karena Imam Besar kita, yaitu Yesus Sang Anak Allah, telah naik ke surga dan menjadi perantara bagi kita, maka kita memiliki landasan yang pasti untuk memercayai-Nya di tengah berbagai persoalan (ayat 14). Yesus dapat ikut merasakan kelemahan kita karena semasa hidup-Nya di dunia ini, Dia dicobai dalam segala hal sama seperti kita, tetapi Dia tidak berbuat dosa (ayat 15). Kita dapat menghampiri takhta-Nya yang disebut “takhta kasih karunia” (ayat 16).

Dalam kitab Ibrani, kita didorong untuk mengarahkan pandangan ke atas melalui berbagai ujian yang kita alami, dan dengan penuh keberanian menghampiri takhta itu oleh karena iman. Melalui doa yang rendah hati, kita akan menerima rahmat untuk mengatasi segala kegagalan kita, dan kasih karunia untuk mendapat pertolongan pada waktunya (ayat 16).

Apakah ujian dan cobaan hidup membuat Anda ragu? Apakah pencobaan menyatakan bahwa tidak ada jalan keluar bagi Anda? Tabahlah, dan tetaplah memandang ke atas karena sebelah atas selalu terbuka! – J

 

UNTUK MEMPERBAIKI SUDUT PANDANG ANDA

COBALAH MEMANDANG KE ATAS

 

 

Kolose 1:9-18

 

PERSAMAAN MISTERIUS

Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita,

ketika kita masih berdosa

(Roma 5:8)

 

Profesor John Nash dari Universitas Princeton adalah seorang yang jenius dalam bidang matematika. Ia menghabiskan sepanjang hidupnya menekuni dunia angka yang abstrak, persamaan-persamaan — dan khayalan. Padahal Nash menderita schizophrenia, yaitu penyakit mental yang dapat menyebabkan kelakuan aneh dan mengganggu hubungan dengan sesama. Dengan pertolongan medis dan kasih sayang istrinya, ia belajar untuk hidup dengan penyakitnya dan akhirnya memenangkan Hadiah Nobel.

Dalam film tentang kehidupannya, Nash berkata, “Saya selalu percaya pada angka, persamaan, dan logika yang mem-bawa pada jawaban …. Pencarian telah membawa saya melewati dunia fisik, metafisik, khayalan, dan kembali lagi. Dan saya telah membuat penemuan terpenting dalam hidup saya. Semua alasan yang logis hanya dapat terjawab dalam persamaan misterius tentang kasih.”

Dalam Kolose 1, kita membaca “persamaan misterius tentang kasih” pada tingkat yang terdalam, yaitu kasih Allah bagi kita dalam Kristus. Yesus adalah gambaran Allah yang tak kelihatan, dan karena kasih, Dia telah menciptakan dan memelihara kita (ayat 16,17). Dia juga telah menyediakan kelepasan dari kuasa kegelapan (ayat 13) dan pengampunan bagi dosa-dosa kita (ayat 14). Tidaklah mengherankan jika Paulus berkata bahwa kasih seperti itu “melampaui segala pengetahuan” (Efesus 3:19). Kasih itu membawa kita melampaui akal menuju pengertian yang sesungguhnya tentang Allah (1Yohanes 4:16).

Kita harus hidup di dalamnya dan menunjukkan kasih itu, setiap saat  – DH

 

KASIH ALLAH TIDAK DAPAT DIJELASKAN

KASIH ALLAH HANYA DAPAT DIALAMI

 

 

1 Korintus 10:1-14

 

BERHALA DALAM HATI

Saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala

 (1Korintus 10:14)

 

Pada zaman Perjanjian Lama, penyembahan berhala mudah dikenali — tarian mengitari lembu emas, sujud menyembah patung Baal. Bahkan saat Rasul Paulus menulis surat kepada pengikut Kristus di Korintus pada abad pertama, penyembahan berhala orang kafir dipraktikkan secara terbuka. Ia memperingatkan mereka agar menjauhi segala sesuatu yang berhubungan dengan hal itu (1Korintus 10:14).

Penyembahan berhala masih menjadi suatu bahaya bagi umat Allah, walaupun kegiatannya tidak selalu terbuka atau kelihatan. Berhala biasanya lebih terselubung dan sulit dikenali, karena mereka mengisi tempat-tempat tersembunyi di dalam hati kita.

Jika kita ingin menyingkap berhala di hati kita, perhatikanlah pikiran-pikiran yang mendominasi, karena apa yang sering kita pikirkan mungkin telah menjadi suatu berhala. Apa yang terakhir kita pikirkan sebelum tidur, apa yang pertama kita pikirkan saat bangun, apa yang kita khayalkan sepanjang hari, semuanya berkaitan dengan benda atau sesuatu yang kita sayangi dan percayai. Setiap benda atau orang yang kita harapkan memberikan kepuasan, setiap sasaran atau keinginan kita yang telah menjadi lebih penting daripada Allah, semuanya merupakan “allah-allah” yang merebut kesetiaan kita dan diam-diam mengendalikan kehidupan kita.

Hanya Allah yang dapat memuaskan kebutuhan hati kita yang terdalam dan membuat kita benar-benar hidup. Itulah sebabnya kita perlu mengindahkan nasihat yang penuh kasih dari Rasul Paulus, “Saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala”  – DR

BERHALA ADALAH SEGALA SESUATU

YANG MENGAMBIL ALIH TEMPAT ALLAH

 

 

1 Samuel 26:1-26

 

KEBAIKAN TAK TERDUGA

Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum!

(Roma 12:20)

 

Seorang utusan Injil sedang mengajarkan kebaikan kepada sekelas gadis-gadis kecil. Ia menceritakan kepada mereka tentang Yesus yang mengatakan bahwa seseorang yang memberikan secangkir air di dalam nama-Nya “tidak akan kehilangan upahnya” (Markus 9:41).

Hari berikutnya, utusan Injil itu mengamati sekelompok laki-laki yang tampak letih berjalan menuju alun-alun. Mereka menurunkan ransel mereka yang berat, dan duduk untuk beristirahat sejenak. Beberapa menit kemudian, tampaklah beberapa gadis kecil yang dengan malu-malu mendekati orang-orang yang terkejut itu dan memberi mereka semua minum. Kemudian mereka lari menghampiri si utusan Injil. “Guru!” teriak mereka, “kami memberi orang-orang itu minuman dalam nama Yesus.”

Walaupun Markus 9:41 terutama diterapkan untuk menunjukkan kebaikan kepada orang-orang yang percaya di dalam Kristus, kita tahu bahwa kita harus “berbuat baik kepada semua orang” (Galatia 6:10) dan bahkan memberi musuh kita minum (Roma 12:20).

Dalam bacaan Alkitab hari ini, Daud mempunyai kesempatan untuk membalas dendam kepada Raja Saul (1 Samuel 26:9). Tetapi karena Daud menyembah Allah, ia menunjukkan kebaikan kepada raja itu.

Menunjukkan kebaikan yang tak terduga kepada orang asing atau musuh kita memang tidak selalu akan mengubah hati mereka. Namun cepat atau lambat, seseorang akan bertanya-tanya mengapa kita berbuat kebaikan, dan kita akan memiliki kesempatan untuk menceritakan Tuhan kita yang baik, bahkan terhadap para musuh-Nya (Roma 5:10) – HL

 

SATU PERBUATAN BAIK MENGAJARKAN LEBIH BANYAK

TENTANG KASIH ALLAH DARIPADA BANYAK NASIHAT

 

 

Markus 12:13-17, 28-31

 

UANG DAN WAKTU

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar

dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!”

(Markus 12:17)

 

Selama perjalanan ke London, saya mengunjungi Museum Bank of England, lalu terus ke Museum Clockmakers. Dalam beberapa hal, saya terkejut saat menyadari bahwa uang dan waktu telah menjadi komoditas sangat penting sejauh ingatan manusia. Namun, keduanya juga menghadirkan satu dilema besar dalam hidup. Kita memanfaatkan waktu yang berharga untuk bekerja mencari uang, lalu menghabiskan uang kita untuk menikmati waktu libur. Kita jarang memiliki keduanya secara seimbang.

Sebaliknya, Tuhan tidak pernah dipusingkan oleh uang atau waktu. Ketika ditanya apakah membayar pajak kepada Kaisar itu sah menurut hukum, Yesus menjawab, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Markus 12:17). Meskipun kesibukan-Nya menyita waktu, Yesus meluangkan waktu di pagi hari dan larut malam untuk berdoa, mencari dan melakukan kehendak Bapa-Nya.

Penulis himne Frances Havergal menulis:

Ambillah hidupku, dan biarlah Diabdikan kepada-Mu, Tuhan;

Ambillah waktu-waktu dan hari-hariku,

Biarlah mereka mengalir dalam pujian tanpa henti.

Ambillah perakku dan emasku, Tak sedikit pun akan kutahan;

Ambillah kepandaianku dan pakailah

Setiap kekuatan yang akan Kaupilih.

Kita dapat menyeimbangkan waktu dan uang dengan sebaik-baiknya jika kita mempersembahkan diri tanpa syarat kepada Allah  – DC

 

PERGUNAKANLAH WAKTU DAN UANG DENGAN BIJAK

KARENA KEDUANYA MILIK ALLAH

 

 

Markus 6:45-52

 

TANDA

Ia datang kepada mereka berjalan di atas air

(Markus 6:48)

 

Ketika sebuah helikopter jatuh di hutan belantara bergunung-gunung yang dingin, para pilotnya selamat namun terluka parah. Siang yang membeku berganti menjadi malam yang jauh lebih membekukan lagi. Situasi tampaknya tak memberikan harapan, sampai sebuah helikopter penyelamat muncul, dan lampu sorotnya menembus kegelapan malam. Helikopter itu berhasil menemukan bangkai pesawat, mendarat di dekatnya, dan menyelamatkan seluruh awaknya.

“Bagaimana kalian bisa mengetahui posisi kami?” tanya seorang pilot yang terluka.

“Dari radar di helikopter Anda,” jelas si penyelamat. “Alat itu mati secara otomatis ketika Anda jatuh. Yang kami lakukan hanyalah mengikutinya.”

Murid-murid Yesus juga mengalami sukacita karena diselamatkan. Mereka telah berusaha mendayung perahu mereka melawan angin dan gelombang di tengah kegelapan malam di Laut Galilea (Markus 6:45-47). Kemudian Yesus mendatangi mereka, berjalan di atas air, dan menenangkan laut yang bergejolak itu (ayat 48-51).

Kita mungkin mengalami situasi yang sama, yaitu ketika semuanya gelap dan memberikan pertanda buruk. Kita tidak dapat menolong diri sendiri, dan tampaknya orang lain pun tidak dapat menolong kita. Tidak seorang pun tahu betapa takut dan letihnya kita. Tidak seorang pun tahu, kecuali Yesus.

Ketika kita terperangkap, terluka, kesepian, atau kecil hati, Yesus mengetahuinya. Tangis kesedihan kita adalah tanda yang akan membawa Dia ke sisi kita, tepat pada saat kita sangat membutuhkan-Nya  – DE

 

YESUS MENDENGAR TERIAKAN MINTA TOLONG

YANG PALING SAMAR SEKALIPUN

 

 

Amsal 4:20-27

 

PERAWATAN HATI

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan

(Amsal 4:23)

 

Jika Anda berusia di atas 40 tahun, itu artinya jantung Anda telah berdetak lebih dari 1,5 miliar kali. Saya sadar bahwa ketika jantung saya berhenti berdetak, sudah sangat terlambat bagi saya untuk mengubah gaya hidup. Jadi, saya berusaha mengontrol berat badan saya, berolahraga, dan memerhatikan tidak hanya apa yang saya makan, tetapi juga apa yang mengganggu pikiran saya.

Hal terakhir ini berhubungan dengan organ penting lain yang disebut “hati”, yaitu hati rohani kita. Hati kita juga berdenyut jutaan kali karena pemikiran, kasih sayang, dan berbagai pilihan. Di dalam hati, kita memutuskan bagaimana kita akan berbicara, bersikap, dan menanggapi keadaan lingkungan (Amsal 4:23). Apakah kita akan memercayai Tuhan dan memilih untuk menjadi ramah, sabar, dan penuh kasih? Atau apakah kita akan menyerah pada kesombongan, ketamakan, dan kepahitan?

Bacaan Kitab Suci hari ini menekankan pentingnya memelihara hati kita. Apakah kita tetap sehat secara rohani?

Berat: Apakah kita perlu mengurangi beban dan pemikiran yang tidak perlu?

Denyut: Apakah kita mempertahankan ketetapan irama ucapan syukur dan pujian?

Tekanan darah: Apakah kepercayaan kita lebih besar daripada kecemasan kita?

Diet: Apakah kita menikmati gizi firman Allah yang memberikan kehidupan?…… Sudahkah Anda memeriksa hati Anda akhir-akhir ini? – MH

 

AGAR SELALU SEHAT SECARA ROHANI

MINTALAH NASIHAT DARI TABIB YANG AGUNG

 

 

 

Kekayaan, Kesuksesan dan Kasih Sayang

 

 

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah dari perjalanannya keluar rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.

Wanita itu berkata dengan senyumnya yang khas: “Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang baik-baik yang sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut”.

Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang?”  Wanita itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar”. “Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali”, kata pria itu.

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, “Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini”.

Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam. “Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama”, kata pria itu hampir bersamaan. “Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.

Salah seseorang pria itu berkata, “Nama dia Kekayaan,” katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, “sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-Sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu.”

Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. “Ohho…menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.”

Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita.” Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. “Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang.”

Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. “Baiklah, ajak masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang menjadi teman santap malam kita.”

Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. “Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini.”  Si Kasih-sayang berdiri, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. “Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?”

Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. “Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun Kasih sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang, maka kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.”  millis

 

 

 

Kisah Para Rasul 2:22-39

 

SALIB BERBICARA

Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci … dan

… telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga

(1 Kor 15:3,4)

 

Salib menghiasi menara-menara gereja dan menandai tempat-tempat pemakaman. Kadang kala salib juga menandai lokasi meninggalnya seseorang dalam kecelakaan di jalan raya. Dan salib kerap dipakai sebagai perhiasan.

Salib mengingatkan orang kepada Yesus Kristus. Saya menjadi sadar akan hal ini ketika seorang pengusaha yang melihat salib emas kecil di kerah jaket saya, bertanya, “Mengapa Anda memercayai Kristus?” Saya gembira mendapat kesempatan bersaksi tentang iman saya kepadanya.

Yesus mati di atas kayu salib bagi kita, tetapi kita tidak menyembah Juruselamat yang mati. Tubuh Tuhan kita diturunkan dari kayu salib dan dikuburkan, kemudian pada hari yang ketiga Dia muncul kembali dalam tubuh-Nya yang dimuliakan.

Salib memberikan gambaran yang menyeluruh kepada kita, yakni tentang kematian penebusan Tuhan untuk membayar harga dosa-dosa kita, dan kebangkitan-Nya untuk melepaskan kita dari kuasa maut.

Jika bukan itu tujuan kematian Kristus di kayu salib, kita semua tetap bersalah di hadapan Allah dan tidak berdaya ketika berhadapan dengan maut. Namun melalui iman kepada-Nya, kita menerima pengampunan atas segala dosa kita dan jaminan bahwa maut tak dapat mencengkeram kita.

Sudahkah Anda memandang pada salib dan menaruh iman kepada Pribadi yang telah mati di sana? Inilah satu-satunya cara yang pasti dan sempurna untuk pulih dari rasa bersalah dan rasa takut – HL

 

SALIB KRISTUS ADALAH

PERSIMPANGAN JALAN MENUJU SURGA ATAU NERAKA

 

 

1 Yohanes 4:15-18

 

KASIH YANG SEMPURNA

…: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman

dan barang siapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih

(1Yohanes 4:18)

 

Seorang bijak pernah menulis, “Ketika kasih hadir, ketakutan pun lenyap.” Saya mengenal banyak orang kristiani yang tersiksa oleh perasaan ragu, tak berharga, dan penuh dosa. Mereka berpikir harus berbuat sesuatu agar lebih dikasihi Allah. Namun, Yohanes menulis, “karena sama seperti Dia [Yesus], kita juga ada di dalam dunia ini” (1Yohanes 4:17). Artinya, bila Yesus meyakini kasih Bapa, Demikian pula seharusnya kita memiliki keyakinan yang sama dengan Yesus bahwa Bapa mengasihi kita dengan kasih sempurna.

Yesus telah menyelesaikan tugas penebusan bagi kita di kayu salib, maka semua hukuman atas dosa-dosa kita telah berlalu dan dihapus selamanya. Kini kita tidak lagi berada di bawah hukuman.

Kasih ini melenyapkan ketakutan. Seperti yang ditulis Yohanes, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (ayat 18). “Ketakutan” yang dimaksud Yohanes adalah ketakutan akan penghakiman. Tetapi kita tak perlu takut lagi, sebab “sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 8:1). “Kasih sempurna” Allah telah mengenyahkan ketakutan.

Semua dosa kita telah diampuni. Kita dipegang erat oleh kasih Allah dan ditentukan untuk menikmati persekutuan abadi dengan-Nya. Bukan karena usaha yang kita lakukan, tetapi karena segala sesuatu yang telah dilakukan-Nya bagi kita. “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1Yohanes 4:10). Itulah kasih yang sempurna! – DR

 

 

1 Petrus 2:18-25

 

DI MANA AKAN BERAKHIR ?

Ketika [Yesus] menderita, Ia tidak mengancam,

tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil

(1 Petrus 2:23)

 

Angelo, empat tahun, bangun dan mendapati anak anjing pemburunya yang baru telah mengunyah gitar plastiknya. Bocah ini sangat sedih. Ibunya pun gusar sehingga menghardik suaminya, Tony, saat akan ke kantor.

Masih merasa gusar dengan perlakuan istrinya yang tidak menyenangkan tadi, Tony pun memberi perintah-perintah yang dingin dan tidak masuk akal kepada sekretarisnya. Suasana hati sang sekretaris menjadi tidak enak, dan saat istirahat minum kopi ia mendamprat rekannya sesama sekretaris. Di akhir jam kantor, sekretaris yang kedua menghadap atasannya dan siap mengundurkan diri.

Satu setengah jam kemudian, setelah berjuang di tengah kepadatan lalu lintas, sang atasan masuk rumah. Lalu ia menumpahkan kemarahan kepada si kecil Nelson yang meninggalkan sepedanya di pelataran garasi. Nelson masuk ke kamarnya, membanting pintu, dan menendang anjing Scottish terrier-nya.

Di mana akhir semuanya ini? Tiap orang berpikir bahwa ia mempunyai alasan untuk marah. Padahal, dalam situasi khayalan ini yang dibutuhkan adalah seseorang yang menyerap perlakuan tidak adil itu dan tidak meneruskannya kepada orang lain.

Di sinilah orang kristiani memiliki kesempatan yang unik. Dengan mengetahui kehendak Bapa, memerhatikan teladan Sang Putra, dan bersandar pada pertolongan Roh Kudus, kita dapat menanggung perlakuan buruk serta menunjukkan sikap lebih baik kepada orang lain. Dalam reaksi berantai karena frustrasi dan marah seperti di atas, kita dapat menjadi orang terakhir dan tidak meneruskannya  – MH

 

 

Yakobus 1:1-12

 

SELAMAT MENDERITA ?

Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan

(Yakobus 1:2)

 

Di belakang kartu ucapan ulang tahun [anniversary] pernikahan, ada beberapa garis lekak-lekuk yang digambar cucu kami, Trevor, 3 tahun. Di sampingnya tertulis catatan putri kami yang menjelaskan bahwa Trevor menceritakan kepadanya apa yang telah ia tulis: “Saya mengucapkan selamat atas cinta kalian dan selamat menderita [Happy adversity].”

“Kesalahan” Trevor menjadi semboyan kami, karena “selamat menderita” mengandung prinsip alkitabiah untuk menghadapi kesulitan dengan sukacita: “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan” (Yakobus 1:2,3).

Dari sudut pandang kita, kemalangan bukanlah kebahagiaan. Kita berpikir hidup orang kristiani seharusnya bebas dari masalah, dan kita tak melihat banyak makna dalam penderitaan. Namun, Allah memandangnya dengan berbeda.

J.B. Phillips menerjemahkan Yakobus 1:2,3 demikian: “Ketika segala jenis ujian dan cobaan menyesakkan hidupmu, Saudaraku, jangan membenci mereka sebagai pengacau, tetapi sambutlah mereka sebagai kawan! Sadarilah bahwa cobaan-cobaan itu datang untuk menguji imanmu dan menghasilkan daya tahan bagimu.”

Penderitaan tidak datang sebagai pencuri yang mencuri kebahagiaan, tetapi sebagai kawan yang membawa karunia agar kita tetap kuat. Melalui penderitaan, Allah menjanjikan hikmat dan kekuatan-Nya bagi kita.

Jadi, jangan tersinggung jika hari ini saya mengucapkan, “Selamat Menderita” kepada Anda – DC

 

 

Ester 1

 

DI BALIK TAKHTA

Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja

(Daniel 2:21)

 

Di sepanjang hidup, saya telah menyaksikan orang-orang jahat bangkit menduduki tampuk kekuatan politik dan militer, membuat banyak kesalahan besar, lalu menghilang di balik layar. Bahkan para pemimpin yang baik pun meninggalkan catatan yang mengandung kesalahan dan kelemahan.

Kitab Ester pasal pertama menunjukkan kesombongan Raja Ahasyweros, pemimpin kerajaan Persia yang sangat besar. Ia menyelenggarakan sebuah pesta besar-besaran untuk memamerkan kekayaan dan kemegahannya. Setelah berpesta selama tujuh hari, raja memerintahkan para pelayannya membawa Wasti, sang ratu, di hadapan pengunjung pesta agar mereka dapat melihat kecantikannya yang luar biasa. Tetapi Ratu Wasti menolak untuk datang, dan penolakannya memalukan raja agung Persia tersebut (ayat 12-18).

Ahasyweros marah besar dan meminta nasihat dari orang-orang bijak di kerajaannya. Mereka menasihatinya untuk mencopot Wasti dari jabatannya sebagai ratu dan “mengaruniakan kedudukannya sebagai ratu kepada orang lain yang lebih baik daripadanya” (ayat 19). Allah memakai berbagai kejadian luar biasa ini untuk menempatkan gadis Yahudi dalam posisi strategis untuk melindungi rakyatnya dari kehancuran.

Nama Allah tidak disebutkan di seluruh kitab Ester, namun pesan dalam pasal 1 itu demikian keras dan jelas: Allah dapat menciptakan kebaikan dari segala sesuatu, bahkan ketika orang-orang yang punya kekurangan dan cenderung melakukan kesalahan terlibat di dalamnya. Dialah kekuasaan yang sesungguhnya di balik setiap takhta  – HL

 

 

Mazmur 34:5-9

 

TEMPAT PERLINDUNGAN

Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!

(Mazmur 34:9)

 

Di dalam dunia yang penuh dengan kesengsaraan ini, hanya ada satu tempat perlindungan yang pasti, yaitu Allah sendiri. “Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya” (Mazmur 18:31).

“Berlindung” berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “mencari perlindungan di dalam” atau “bersembunyi di dalam” atau “bersembunyi bersama”. Kata ini menunjukkan tempat persembunyian rahasia. Orang Texas suka menyebutnya hidey hole yang artinya “lubang persembunyian”.

Ketika kita merasa sangat letih oleh semua usaha kita, ketika kita bingung karena berbagai masalah kita, ketika kita dilukai oleh kawan-kawan kita, ketika kita dikelilingi oleh musuh-musuh kita, kita dapat berlindung kepada Allah. Tidak ada rasa aman di dunia ini. Seandainya kita menemukan rasa aman di dalam dunia ini, maka kita tidak akan pernah mengalami sukacita dari kasih dan perlindungan Allah. Kita akan kehilangan kebahagiaan yang telah disediakan bagi kita.

Tempat yang paling aman hanyalah Allah sendiri. Ketika awan badai menggumpal dan bencana mulai membayang, kita harus datang ke hadirat Allah dalam doa dan berdiam di sana (Mazmur 57:2).

George MacDonald berkata, “Orang yang memiliki iman sempurna adalah orang yang dapat datang kepada Allah dalam segala kekurangan dari perasaan dan hasratnya, tanpa semangat atau ambisi; dengan beban kekecewaan, kegagalan, perasaan diabaikan, dan kelalaian, serta berkata kepada-Nya, ‘Engkaulah tempat perlindunganku.’” Betapa aman dan diberkatinya kita! – DR

 

RASA AMAN TIDAK DITEMUKAN DALAM KETIADAAN BAHAYA

MELAINKAN DALAM HADIRAT ALLAH

 

 

1 Samuel 13:1-15

 

KONSEKUENSI YANG MAHAL

Engkau tidak mengikuti perintah Tuhan …. Sekarang kerajaanmu tidak akan tetap

(1 Sam 13:13,14)

 

Saya selalu sadar bahwa ketidaktaatan memiliki konsekuensi tertentu. Namun, saya terpaksa mengakuinya saat menjalani latihan dasar selama Perang Dunia II. Saya telah melakukan perjalanan melebihi jarak yang diizinkan pada akhir pekan untuk menemui istri saya Ginny. Dan saya terlambat pulang ke kamp karena kereta apinya rusak. Saya harus membayar pelanggaran itu dengan 20 jam tugas tambahan mencuci alat-alat dapur!

Raja Saul juga belajar tentang mahalnya sebuah ketidaktaatan. Ia menghadapi kemungkinan pertempuran melawan tentara Filistin yang sangat besar jumlahnya dan memiliki persenjataan lengkap, sedangkan ia hanya memiliki sekelompok kecil pengikut yang ketakutan dan tidak terlatih. Sementara menunggu kedatangan Samuel yang akan mempersembahkan korban sebelum menuju medan perang, Saul tidak sabar dan mempersembahkan korban itu sendiri. Padahal ia tahu bahwa Allah hanya memberikan hak itu kepada imam. Sungguh kesalahan yang harus dibayar mahal.

Saul sebenarnya telah memulai pemerintahannya dengan rendah hati serta penuh belas kasihan, dan ia memercayai Allah (1 Samuel 11). Dan Nabi Samuel memberitahunya bahwa Allah akan mempertahankan kedudukan raja dalam keluarganya jika saja ia menaati perintah Allah (13:13,14). Namun, satu ketidaktaatan telah mengubah jalan hidupnya. Sejak saat itu, perjalanan hidupnya semakin memburuk.

Jangan Anda lupa bahwa ketidaktaatan memiliki berbagai konsekuensi. Dan beberapa di antaranya harus dibayar mahal – HL

 

KETAATAN ADALAH SATU-SATUNYA CARA

UNTUK MEMPEROLEH BERKAT

 

 

Markus 7:31-37

 

Yesus jadikan Semuanya baik

“Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik,

yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

( Markus 7:37)

 

Secara sederhana hidup kita adalah soal bicara dan mendengar. Dua hal yang kelihatannya sangat sederhana. Hal yang sederhana ini akan menjadi sangat rumit dan sukar apabila salah satu indera kita tidak berfungsi dengan baik. Dalam bacaan kita hari ini masalahnya lebih rumit lagi. Orang yang dibawa kepada Yesus tuli dan bisu. Yesus adalah Tuhan yang berkuasa, Ia sanggup menyembuhkan segala penyakit bahkan orang mati pun Ia bangkitkan. Namun pada saat menghadapi orang yang tidak bisa berkomunikasi ini Yesus menerapkan cara yang khusus.

Pertama, Yesus memisahkan orang tersebut dari orang banyak dan melayani dia secara pribadi (ay 33). Yesus menjamah telinga dan lidah orang tersebut.

Kedua, Yesus berfirman, “effata” yang artinya terbukalah (ay 34). Dan seketika itu juga telinganya terbuka sehingga dapat mendengar dan pengikat  lidahnya terlepas sehingga ia dapat berbicara dengan baik (ay 35).

Telinga dan lidah adalah alat untuk berkomunikasi. Kalau kedua alat tersebut sehat berarti baiklah komunikasi kita. Namun kenyataannya bukankah orang yang sehat telinga dan lidahnya justru yang sering bermasalah ketika berkomunikasi? Rumah tangga berantakan karena masing-masing sulit mendengarkan pasangannya. Anak-anak salah pergaulan karena tidak mendengarkan nasihat orang tua, dstnya. Oleh sebab itu kalau saat ini kita sulit berkomunikasi dengan baik, datanglah kepada Yesus secara pribadi. Mintalah agar ia memulihkan kita sehingga kita dapat berkata-kata dengan baik. Sebab Yesus menjadikan segala sesuatu baik adanya. – Vic

 

 

Galatia 5:13-26

 

MANUSIA KUPU-KUPU

Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging

(Galatia 5:16)

 

Internet adalah salah satu perkembangan paling luar biasa di zaman kita. Sungguh menakjubkan bahwa dengan beberapa ketukan pada keyboard komputer, Anda dapat menemukan alamat Paman Frank di New York, resep hidangan ikan ala Brazil, atau statistik tentang atlet favorit Anda.

Namun, tentu saja internet juga turut membuka dunia yang penuh dengan pilihan dosa. Itu sebabnya banyak provider internet menawarkan sebuah layanan untuk melindungi komputer keluarga dari situs-situs yang mempromosikan hal-hal yang tidak bermoral. Sebuah perusahaan memajang pria berwajah lucu yang berpakaian seperti kupu-kupu untuk menggambarkan jasa layanan mereka. Dalam iklan itu ditunjukkan betapa ia melindungi anak-anak dari berbagai kegiatan yang tidak bermoral.

Orang kristiani juga memiliki sumber yang serupa, tetapi sumber ini tidak menarik biaya dari kita setiap bulannya. Sumber itu bukanlah manusia kupu-kupu, melainkan Roh Kudus yang hidup di dalam hati setiap orang percaya. Saat kita mencari pimpinan dari firman Allah dan berdoa, Dia akan memampukan kita untuk mendeteksi dan menyaring hal-hal yang tidak bermoral. Dia akan menolong kita menjauhi tempat yang tidak benar, tidak melakukan apa yang tidak seharusnya dilakukan, dan tidak mengatakan hal yang tidak seharusnya diucapkan.

Dunia, seperti halnya internet, memiliki banyak hal yang harus kita hindari. Bila setiap hari kita berusaha untuk hidup di dalam Roh dan bersandar pada hikmat serta kuasa-Nya, maka kita akan tetap bersih  – DB

 

ROH KUDUS ADALAH PELINDUNG

YANG SENANTIASA HADIR DALAM HATI KITA

 

 

Mazmur 138

 

MENGHADAPI RASA TAKUT

Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku

(Mazmur 138:3)

 

Setelah menikah dengan Bill, saya menjadi sangat bergantung kepadanya, bukannya bergantung kepada Allah untuk memperoleh rasa aman serta kekuatan. Karena merasa sangat tidak berdaya dan ketakutan, diam-diam saya khawatir, “Bagaimana jika seandainya suatu hari kelak Bill tidak di sisiku lagi?”

Ketika Bill setiap kali harus meninggalkan rumah untuk pekerjaan misi selama seminggu, saya mulai bergantung pada diri sendiri, bukan pada Bill. Ketika merasa semakin tidak berdaya, saya berusaha sebisa mungkin mengurangi risiko di dalam kehidupan ini dan tinggal di dalam “kepompong” kegelisahan. Bahkan saya takut keluar ke tempat-tempat umum.

Akhirnya, pada titik terendah, saya mengikuti teladan Daud dalam Mazmur 138:3. Daud berkata, “Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.” Saya pun berseru dan Allah menjawab saya. Jawaban-Nya memberi saya pengertian dan kekuatan untuk menembus kepompong rasa takut serta mulai merentangkan sayap saya dalam kebergantungan kepada Allah. Secara perlahan namun pasti, Dia menjadikan saya pendamping yang kuat di sisi Bill.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Bill meninggal, saya menyadari bahwa Allah dengan penuh kasih mengatasi rasa takut saya yang dahulu: “Bagaimana jika seandainya suatu hari kelak Bill sudah tidak di sisiku lagi?” Bukannya menyingkirkan rasa takut saya, Allah justru memberi saya kekuatan dan kemampuan untuk menghadapi ketakutan itu. Dan Dia akan memampukan Anda bila Anda bergantung kepada-Nya  – J

 

UNTUK MENAKLUKKAN RASA TAKUT ANDA

SERAHKANLAH RASA TAKUT ITU KEPADA TUHAN

 

 

Ayub 13:1-9

 

KAWAN YANG MENDENGARKAN

Sekiranya kamu menutup mulut, itu akan dianggap kebijaksanaan dari padamu

(Ayub 13:5)

 

Saat itu kira-kira pukul sembilan malam. Saya dan Ginny, istri saya, sedang duduk-duduk di ruang keluarga kami. Saya sedang asyik membaca buku ketika tiba-tiba Ginny berkata, “Sayang, aku mau bicara denganmu sebentar.” Ginny pun mulai berbicara, tetapi kemudian mendadak ia bertanya, “Apakah kau mendengarkan aku?”

Saya tergoda untuk menyahut, “Tentu saja. Aku kan cuma berjarak setengah meter darimu.” Padahal pikiran saya saat itu terpancang pada buku yang sedang saya baca. Saya harus menutup buku itu dan memberikan perhatian sepenuhnya pada apa yang dikatakan Ginny. Ia layak mendapatkan perhatian dari saya.

Ayub juga frustrasi karena teman-temannya tidak memerhatikan apa yang ia katakan kepada mereka. Ia merasa bahwa saat ia berbicara, teman-temannya malah memikirkan respons selanjutnya. Mereka berusaha keras meyakinkan Ayub bahwa penderitaan yang dialaminya merupakan hukuman atas dosa-dosa yang pernah ia lakukan selama hidup. Mereka tidak mendengarkan jeritan hati Ayub yang terdalam.

Banyak dari kita bukan pendengar yang baik. Banyak remaja frustrasi karena orangtua mereka selalu memberikan jawaban-jawaban langsung, padahal yang mereka inginkan hanyalah seseorang yang mau mendengarkan pergumulan mereka dan menerima mereka. Seorang remaja berkata, “Kadang kala saya baru mau bicara kalau saya tahu pasti apa yang ingin saya bicarakan.”

Hubungan yang mendalam dibangun melalui penerimaan, pengertian, dan kesediaan untuk menjadi pendengar yang baik  – HL

 

 

Markus 10:35-45

 

TERLALU BERAMBISI

Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan

untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang

(Markus 10:45)

 

Jika Anda mengenal karya-karya William Shakespeare, Anda pasti mengenal Macbeth sebagai salah satu tokoh dalam karyanya. Macbeth begitu ingin menjadi raja sehingga ia melakukan pembunuhan, dan ia harus membayar perbuatannya itu dengan nyawanya.

Kita akan menjadi seperti tokoh yang tragis itu jika kita membiarkan ambisi memenuhi pikiran, sehingga akhirnya melupakan siapa yang sebenarnya mengendalikan kehidupan kita. Kita mungkin tidak mempergunakan cara-cara yang jahat untuk mencapai tujuan, tetapi kita membiarkan ambisi menutupi pikiran kita mengenai kedaulatan Allah. Bukannya menyerahkan segala persoalan ke dalam tangan-Nya, kita malah menyelesaikannya sendiri.

Contoh lain dari ambisi yang berlebihan ditemukan dalam percakapan antara Yakobus dan Yohanes dengan Yesus di dalam Markus 10. Mereka bertujuan untuk menduduki posisi yang memiliki kehormatan dan kekuasaan tertinggi di Kerajaan Surga. Dan karena tidak sabar untuk menunggu dan melihat apakah Yesus akan menganugerahkan kehormatan itu kepada mereka, maka mereka dengan berani memintanya. Mereka begitu tidak sabar untuk menyerahkan segala persoalan ke dalam tangan-Nya.

Ambisi memang tidak selalu salah. Namun ketika ambisi begitu memenuhi pikiran sehingga kita tidak sabar menunggu Allah, maka kita menunjukkan kurangnya iman seperti yang dilakukan para murid itu.

Apabila kita menyerahkan semua tujuan dan keinginan kita kepada Tuhan, kita dapat yakin bahwa Dia akan memberikan yang terbaik bagi kita  – DB

 

BERAMBISILAH UNTUK TUHAN

TETAPI BERHATI-HATILAH DENGAN MOTIVASI ANDA

 

 

Lukas 19:41-44

 

BERAPA LAMA ?

Ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya

(Lukas 19:41)

 

Butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan jawaban ‘ya’ dari seorang gadis. Seorang pria Wales jatuh cinta pada salah seorang tetangganya dan ingin menikahinya. Namun mereka terlibat pertengkaran, dan si gadis menolak untuk memaafkannya. Dengan rasa malu dan segan menghadapi wanita yang tersinggung itu, sang peminang yang gigih ini menyelipkan sepucuk surat cinta di bawah pintu rumah si gadis seminggu sekali.

Akhirnya, setelah 42 tahun berlalu ia memberanikan diri mengetuk pintu rumah wanita itu dan meminta wanita tersebut menjadi istrinya. Ia sangat gembira karena sang wanita menerima pinangannya. Mereka pun menikah pada usia 74 tahun!

Allah juga seorang kekasih yang gigih. Dari abad ke abad Dia mengutus para nabi untuk mencari umat Israel yang keras kepala. Lalu Allah mengutus Putra-Nya. Dalam Lukas 19 dikatakan bahwa ketika melihat kota Yerusalem, menangislah Yesus karena menyaksikan kedegilan hati mereka (ayat 41-44).

Namun Yesus tetap gigih mengasihi. Dia membuka jalan bagi perdamaian melalui pengurbanan-Nya di Kalvari yang memberikan penebusan. Hari ini Dia masih mengajak para pendosa untuk datang kepada-Nya, menerima-Nya secara pribadi sebagai Juruselamat, dan menikmati persekutuan yang intim dengan-Nya (Matius 11:28).

Jika Anda telah datang kepada-Nya, bersoraklah karena Anda telah menjadi milik-Nya. Tetapi jika belum, sadarilah bahwa waktunya bisa habis. Jangan terus-menerus menjauhkan diri dari Kekasih jiwa Anda tersebut. Percayalah kepada-Nya hari ini juga – VG

 

ALLAH SENANTIASA MENGETUK CUKUP KERAS

AGAR JIWA YANG MENCARI-NYA DAPAT MENDENGAR

 

 

Mazmur 9:1-5

 

Bersyukur kepada Tuhan

Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku,

aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib

(Mazmur 9:2)

 

Waktu pelayanan bulan juni- juli, penulis hampir tiap hari melayani ibadah ucapan syukur. Ada yang bersyukur karena ulang tahun, ada yang karena sembuh dari penyakit, panen yang baik, dstnya. Semua itu baik, namun kita akan melihat bagaimana sebenarnya kita harus beryukur. Bersyukur itu harus dengan segenap hati. Artinya lahir dari hati yang melimpah dengan ucapan syukur. Sehingga kita juga akan mampu beryukur disaat mengalami pergumulan. Lahir dari hati yang melimpah maka syukur kita akan tetap ada, konsisten setiap hari.

Pak Amir baru saja diangkat menjadi seorang manajer perusahaan, dimana  ia telah mengabdi selama 10 tahun lebih. Dengan bangganya ia pulang ke rumah dan berkata kepada istrinya, bahwa ia akan mengadakan ibadah ucapan syukur atas kenaikan pangkatnya agar orang-orang tahu posisinya saat ini. Setelah penantian 10 tahun bekerja maka tidak salah ia bersyukur atas kenaikan jabatan tersebut. Tetapi sungguh disayangkan tujuan dari ucapan syukur tersebut.

Bukankah ucapan syukur seperti ini banyak sekali ditemukan dalam ucapan syukur orang Kristen? Kita bersyukur karena berkat yang kita peroleh dengan tujuan agar orang lain tahu apa yang telah kita capai.

Tujuan bersyukur bagi Daud adalah untuk menceritakan segala perbuatan Tuhan yang ajaib (ay 2). Jadi inilah sebenarnya yang harus menjadi tujuan atau motifasi dibalik setiap kali kita bersyukur kepada Tuhan. Kita bersyukur untuk bersaksi kepada orang lain tentang kebaikan Tuhan. Oleh sebab itu biarlah hati kita melimpah dengan ucapan syukur sehingga hidup kita sungguh menjadi kesaksian untuk kemuliaan nama Tuhan. – Vic

 

 

Bilangan 14:26-35

 

DEKAT TETAPI JAUH

Barang siapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan

(Roma 10:13)

 

Pada awal sejarah Kanada, para perintis sedang berlindung di Benteng Babine. Saat perbekalan mulai menipis, Victor Clark dan seorang pemandu muda meninggalkan benteng dan berjalan ke kota Hazelton untuk membeli makanan.

Dalam perjalanan kembali ke benteng, salju mulai turun. Kedua pejalan kaki itu pun merasa kedinginan karena tiupan angin begitu menusuk tulang dan mereka tidak dapat lagi mengikuti jalan setapak di dalam kegelapan. Mereka terpaksa berhenti, kemudian menyalakan api unggun dan melewati malam yang menyedihkan itu. Saat fajar berangsur-angsur merekah, mereka dapat melihat benteng tersebut dengan kehangatan dan kenyamanannya. Benteng itu hanya beberapa ratus meter dari tempat mereka berhenti. Sangat dekat, namun terasa begitu jauh!

Orang-orang Israel telah berada di perbatasan Tanah Perjanjian (Bilangan 13). Kaleb dan Yosua, dua pengintai yang berani, telah kembali dengan membawa makanan yang berlimpah dari Kanaan dan mendorong orang-orang Israel untuk merebut tanah tersebut (ayat 26,30). Namun, orang-orang Israel merasa ragu dan menghukum diri mereka dengan berkelana selama 40 tahun dan mati di padang pasir (14:28-30). Mereka pun sudah sangat dekat, namun terasa begitu jauh!

Apakah Anda sudah berkali-kali mendengar tentang kasih Yesus bagi Anda, tetapi Anda belum juga menyerahkan diri kepada-Nya? Apakah Anda sudah begitu dekat, namun terasa begitu jauh? Saat ini juga, putuskanlah untuk menyeberang ke “tanah perjanjian”, yaitu keselamatan di dalam Yesus  – VG

 

INILAH SAATNYA UNTUK MEMILIH TUHAN —

“NANTI” MUNGKIN TIDAK ADA KESEMPATAN

 

 

Mazmur 103:15-18

 

Berharap kepada Tuhan

Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang

yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu,

(Mazmur 103:17)

 

Pada tahun-tahun pertama penulis bertobat, penulis sungguh terpesona dengan kerohanian seorang teman. Namun tanpa disangka-sangka orang tersebut melakukan hal-hal yang membuat penulis kecewa berat padanya. Penulis tidak habis pikir mengapa orang se”rohani” dia bisa melakukan hal-hal seperti itu. Kemudian seiring berjalannya waktu penulis memahami bahwa orang tersebut hanyalah manusia biasa seperti saya juga. Jadi tidak ada jaminan orang tersebut kebal terhadap dosa. Hanya Yesus pribadi yang tidak mengecewakan dan dapat kita jadikan contoh dalam hidup ini.

Begitu juga apabila kita mengandalkan manusia dan menaruh harapan kita padanya maka harapan itu suatu waktu akan mengecewakan kita.  Tidak hanya itu saja ketika kita terfokus mengandalkan manusia maka bisa jadi kita akan melupakan Tuhan.

Mengapa kita perlu berharap kepada Tuhan? Pertama; kita adalah mahluk yang fana (15-16). Fana artinya semua kita sedang menuju kepada kematian. Ada orang yang memiliki tubuh yang kuat, tapi kekuatannya itu tidak bisa menyelamatkan dirinya dari ajalnya. Demikian juga seorang yang sangat kaya, dengan kekayaannya ia tetap tidak akan mampu menghindarkan diri dari kematian. Kedua, kita berharap kepada Tuhan karena kasih setianya kekal. Ditengah segala ketidakmampuan kita, ada Pribadi yang sangat mengasihi kita dengan  kasihnya yang kekal. Inilah yang menghibur kita bahwa walaupun kita mahluk yang fana tapi Allah mengasihi kita bahkan sampai kepada anak cucu. Oleh sebab itu berharaplah hanya kepada Tuhan, sebab Ia adalah Allah yang kekal. – Vic

 

 

Yesaya 46:1-4

 

Imanuel / Allah berserta kita

“Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu..”

(Yesaya 46:4)

 

Firman ini datang kepada bangsa Israel disaat mereka berada dalam kebimbangan yang besar. Betapa tidak saat itu mereka berada dalam pembuangan di Babel. Selama ini mereka senantiasa menang tapi sekarang Babel yang menyembah Baal justru mengalahkan mereka. Mungkin timbul pertanyaan diantara mereka, masihkah Allah berkuasa. Saat inilah Tuhan datang dengan firmanNya melalui Yesaya. Allah menyatakan bahwa dewa sesembahan Moab akan ditundukan (1 & 2).

Kemudian Allah mengingatkan Israel akan hakikat diriNya (ay 3), yang telah teruji kesetiaanNya dimasa yang lampau. Allah juga menyatakan bahwa Ia akan terus menyertai mereka sampai masa putih rambut. Artinya, Allah adalah Imanuel masa kini dan juga masa yang akan datang. Namun pertanyaannya saat kita menderita maukah kita menaruh percaya kepada janji Tuhan? Sebagai pengikut kristus, kita seringkali diperhadapkan kepada situasi yang seakan-akan Allah kita kalah. Apakah dalam rumah tangga, usaha, sekolah atau saat penyakit datang menggerogoti kita. Satu hal yang perlu kita ingat bahwa Israel dibuang ke Babel itu semata-mata karena mereka tidak mau mendengarkan Tuhan. Sehingga Tuhan memakai Babel untuk menghukum mereka.

Apabila saat ini kita menghadapi kesulitan, carilah apa sebenarnya yang Tuhan kehendaki dari kita melalui pergumulan tersebut. Bukan berarti setiap pergumulan yang datang karena kita berdosa. Namun ada baiknya kita introspeksi diri agar kita semakin menyadari segala kelemahan dan keterbatasan kita. Sehingga kemudian kita belajar untuk mengandalkan Tuhan dalam hidup ini. Dengan melihat penyertaan Tuhan yang telah teruji dimasa yang lalu, kita belajar percaya akan penyertaan Tuhan untuk hari ini dan hari esok – Vic

 

 

Matius 5:11-16

 

MEMPRAKTIKKAN KASIH

Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik

dan memuliakan Bapamu yang di surga

(Matius 5:16)

 

Dalam bukunya Christian in the Marketplace, Bill Hybels mengatakan bahwa orang yang tidak beriman sering berkata, “Tunjukkan kepada saya” sebelum berkata, “Ceritakan kepada saya”.

seorang pemuda bernama Wolfgang di Jerman yang menerapkan prinsip Hybel di lokasi bangunan tempat ia bekerja. Sebagai seorang percaya yang penuh semangat, Wolfgang selalu membaca Alkitab selama jam makan siangnya. Meskipun rekan-rekan sekerjanya mengolok-olok, ia tetap membaca Alkitab setiap hari. Ia berdoa semata-mata agar menemukan cara untuk menunjukkan kasih Kristus kepada mereka.

Sepulang kerja pada malam hari, para pekerja selalu meninggalkan sepatu bot mereka yang berlumpur. Wolfgang pulang lebih lambat untuk membersihkan semua sepatu bot mereka. Mulanya mereka bingung, namun mereka segera sadar bahwa Wolfgang adalah satu-satunya orang di antara mereka yang bersedia melayani dengan rendah hati. Akhirnya mereka tidak hanya menghormatinya, tetapi bahkan terkadang memintanya untuk membacakan Alkitab bagi mereka. Hanya kekekalan yang akan memperlihatkan pengaruh seutuhnya dari kehidupan Wolfgang yang bercahaya. Ketika menyaksikan perbuatan baik Wolfgang, mereka mulai mendengarkan Allah.

Yesus berkata, “Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Matius 5:16). Jika Anda rindu untuk membawa orang-orang di sekitar Anda kepada Yesus, pancarkan kasih-Nya dengan melakukan perbuatan demi memuliakan Allah semata  – J

 

KEHIDUPAN KRISTIANI ADALAH JENDELA

TEMPAT ORANG DAPAT MELIHAT YESUS

 

 

Ayub 29: 1-4

 

Bergaul karib

“seperti ketika aku mengalami masa remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku“

(Ayub 29:4)

 

Hidup ini adalah pilihan, setiap kita mempunyai kesempatan untuk memilih. Sejak muda kita telah memilih dengan siapa kita bergaul. Ayub saat menderita ia mengingat akan masa mudanya dimana ia bergaul karib dengan Tuhan. Apa akibatnya bila bergaul karib dengan Tuhan;

Pertama, ada perlindungan total (ayub 1:10). Perlindungan yang dinikmati oleh Ayub ini sungguh luar biasa. Iblis yang mau mengganggu dia sekalipun tidak sanggup karena Allah yang melindungi dia.

Kedua, akan menerima janji (Mzm 25:14). Dalam sepanjang catatan Alkitab kita hanya menemukan sedikit saja orang yang kepadanya Allah memberitahukan janjiNya. Artinya hanya orang-orang khusus yang memperoleh kesempatan menerima janji Allah.

Ketiga, menikmati keamanan yang berasal dari Tuhan. Setiap orang membutuhkan rasa aman dalam hidupnya. Rumah dibangun dengan kokoh, program asuransi, program keselamatan kerja, semuanya merupakan jawaban akan kebutuhan rasa aman para pekerja. Demikian juga dengan maraknya, ini semua menandakan betapa orang berusaha memenuhi rasa amannya.

Keempat, mati hidup tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah (kol 3:3). Paulus menempatkan mati terlebih dahulu dari hidup. Mengapa, sebab bagi Paulus setiap orang yang percaya Yesus Tuhan, harus ambil bagian dalam kematian-Nya supaya beroleh bagian dalam kehidupan Kristus. Artinya kita telah mati bagi segala tabiat lama yang jahat dan sekarang hidup yang kita hidupi adalah hidup Kristus. Jadi sungguh hebat akibatnya apabila kita hidup bergaul akrab dengan Tuhan. – Vic

 

 

Lukas 8:40-42,49-56

 

DUA ANAK PEREMPUAN

Datanglah seorang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata, “Anakmu sudah mati …”

(Lukas 8:49)

 

Sebelumnya saya tidak pernah banyak berpikir tentang Yairus. Saya memang pernah mendengar kisah tentang kepala rumah ibadat ini, dan saya tahu ia meminta Yesus untuk datang ke rumahnya dan menyembuhkan anak perempuannya yang hampir mati. Namun, saya tak pernah memahami dukacitanya yang mendalam. Saya tidak pernah mengerti betapa hancur hatinya ketika seorang utusan dari keluarganya datang dengan membawa berita, “Anakmu sudah mati.” Tidak, saya tidak pernah mengerti kesedihan dan deritanya, sampai saya mendengar ucapan yang sama seperti itu dari seorang polisi yang datang ke rumah kami pada tanggal 6 Juni 2002.

Anak perempuan Yairus berusia 12 tahun, meninggal karena sakit. Anak perempuan kami berusia 17 tahun, meninggal karena kecelakaan mobil yang menghancurkan hati keluarga kami.

Anak perempuan Yairus dihidupkan kembali oleh jamahan tangan Yesus. Meski pun kami tahu anak perempuan kami Melissa takkan hidup kembali secara fisik, kami yakin ia dipulihkan secara rohani melalui pengurbanan kasih Yesus ketika ia memercayai-Nya sebagai Juruselamat dalam hidupnya. Kini penghiburan itu datang ketika kami tahu bahwa keberadaannya yang kekal bersama Tuhan sudah dimulai.

Dua anak perempuan. Yesus yang sama. Dua hasil yang berbeda. Dan jamahan Yesus yang penuh cinta dan belas kasihan merupakan mukjizat yang dapat membawa damai sejahtera bagi hati yang berduka, seperti hati Yairus, hati saya, dan hati Anda – DB

 

DI TENGAH PADANG GURUN PENCOBAAN

ALLAH MENYEDIAKAN MATA AIR PENGHIBURAN

 

 

Yohanes 13:1-20

 

KAKI YUDAS

Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu,

supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu

(Yohanes 13:15)

 

Saat membaca kisah Yesus yang membasuh kaki para murid-Nya, kita mungkin menganggap bahwa kita sudah mengerti alasan tindakan-Nya tersebut. Misalnya, karena Yohanes adalah seorang teman dekat-Nya. Atau karena Petrus dan Andreas telah sedemikian setia mengikuti Dia.

Setiap murid pasti memiliki sesuatu yang membuat Yesus menyayangi dia. Namun, mengapa Dia mau membasuh kaki Yudas? Yesus sadar bahwa dengan membasuh kaki Yudas, sebenarnya Dia telah merendahkan diri untuk melayani seseorang yang sebentar lagi akan melakukan pengkhianatan yang terburuk dalam sejarah.

Yesus melakukan tindakan paling rendah kepada seseorang yang memperlakukan Sang Pencipta semesta alam sebagai Pribadi yang dihargai tidak lebih dari tiga puluh keping perak. Dengan sengaja, Pribadi yang nama-Nya dihubungkan dengan pemberi kehidupan, membuat tangan-Nya kotor untuk melayani seseorang yang namanya berarti pengkhianatan dan kematian kekal.

Bukankah teladan yang diberikan Yesus mengajarkan kita suatu pelajaran yang istimewa tentang pelayanan? Bukankah hal itu mengingatkan kita bahwa kita tidak dipanggil untuk melayani orang-orang seperti kita saja, atau bahkan mereka yang memerhatikan kita? Kita dipanggil untuk melayani semua orang, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, orang yang ramah maupun yang tidak terlalu ramah.

Kapan terakhir kali Anda “membasuh kaki” seseorang seperti Yudas? – DB

 

DALAM KEDUDUKAN YANG TINGGI, SULIT BAGI KITA

UNTUK MEMBASUH KAKI ORANG YANG DI BAWAH KITA – Colson

 

 

Matius 21:1-17

 

IMAN SEPERTI ANAK-ANAK

Belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak

yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?

(Matius 21:16)

 

Para pemimpin agama Yahudi berpandangan salah terhadap Yesus saat Dia mengendarai keledai masuk ke kota Yerusalem (Matius 21:15,16). Sebenarnya mereka tidak akan melakukan banyak kesalahan, jika mereka mau berusaha. Mereka memang tahu banyak tentang teologi, tetapi mereka sama sekali salah dalam mengenal siapa Yesus yang sebenarnya.

Anak-anaklah yang justru bersikap benar. Merekalah yang berseru di dalam Bait Allah, “Hosana bagi Anak Daud!” (ayat 15). Mereka percaya bahwa Pribadi yang mengendarai keledai betina tak bercacat itu adalah Anak Daud yang dijanjikan. Mereka menggenapi nubuat dalam Mazmur 8:3 dengan memuji Sang Anak Domba yang akan mati bagi dosa-dosa dunia. Anak-anaklah yang menyambut kehadiran-Nya dengan sukacita penuh meskipun mereka mungkin tidak benar-benar mengerti akan misi Yesus untuk menebus seluruh umat manusia.

Ada pelajaran penting tentang iman yang dapat kita petik dari anak-anak. Melalui keterbukaan dan kepolosan mereka, mudah bagi mereka untuk memercayai Pribadi yang dengan karakter murni-Nya telah menyentuh perasaan dalam hati mereka yang lembut.

Sebagai orang dewasa, kita mengira bahwa kita telah mengetahui banyak hal. Kita berusaha menjadi begitu dewasa, benar, dan religius. Namun, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah kita akan mengenali Sang Juruselamat apabila Dia berjalan di antara kita sembari mengadakan berbagai mukjizat yang pernah dilakukan-Nya pada masa yang silam.

Ya Tuhan, berilah kami iman seperti anak-anak  – DE

 

KITA DAPAT MEMETIK BANYAK PELAJARAN PENTING

DARI ANAK-ANAK KECIL

 

 

Amsal 2:1-6

 

CARI DAN DAPATKAN

Jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan … Mendapat pengenalan akan Allah

(Amsal 2:4,5)

 

Justin Martyr adalah pria abad ke-2 yang rindu mencari kebenaran. Ia membaca buku-buku penulis klasik Yunani, mempelajari dan menganalisa setiap filosofi dari segala sudut. Ia mencari pemahaman, terutama jawaban bagi kerinduannya akan kemurnian seks. Namun, usahanya sia-sia. Ia menulis, “Akhirnya, ketidaksetiaan akan muncul, dan cepat atau lambat akan mengkhianati cinta.”

Suatu hari, ia berjalan-jalan tanpa tujuan menyisir pantai, dan bertemu seorang pria tua yang ucapannya menyentuh hati. Belum pernah ada yang berkata seperti itu kepadanya. Pria itu memperkenalkan Allah kepadanya melalui Yesus Kristus. Dengan kesaksian sederhana itu, Justin mendapatkan pengetahuan yang selama ini dicarinya sepanjang hidup, yakni “pengenalan akan Allah” (Amsal 2:4,5).

Mungkin seperti Justin, Anda pun tengah mencari pemahaman ke mana-mana untuk mendapat jawaban yang Anda rindukan tentang kebenaran. Anda telah banyak membaca dan berpikir sungguh-sungguh tentang kehidupan, tetapi tidak menemukan jawaban yang memuaskan kebutuhan terdalam jiwa Anda. Jika demikian, bacalah Injil, empat kitab pertama Perjanjian Baru. Saat membacanya, berserulah kepada Allah, supaya diberi pengertian. Dia akan mendengar Anda, dan Anda akan mendapatkan pengenalan akan Allah melalui Yesus Kristus (Yohanes 17:3).

Allah tidak memaksakan kebenaran kepada mereka yang tidak menginginkannya. Namun, Dia mendengar seruan mereka yang sungguh-sungguh memintanya. Yesus berkata, “Mintalah maka kamu akan menerima” (Yohanes 16:24) – DR

 

UNTUK MENDAPATKAN KEBENARAN PANDANGLAH KRISTUS

 

 

Lukas 2:1-12

 

DI MANAKAH BAYI YESUS ?

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud

(Lukas 2:11)

 

Semua sepertinya datang lebih awal setiap tahunnya. Toko-toko memasang hiasan Natal. Surat kabar mengiklankan, “hadiah Natal sempurna”. Iklan-iklan mainan menyelingi berbagai pertunjukan di televisi. Musik Natal berkumandang di mana-mana. Sebelum Anda sempat menyadarinya, ada jamuan makan yang harus Anda hadiri, pesta-pesta yang tidak bisa Anda lewatkan, hadiah-hadiah yang mesti dibungkus, pertemuan keluarga yang perlu direncanakan, kue-kue panggang yang harus disiapkan, dan seabrek kegiatan lain yang dapat mengimpit makna Natal yang sesungguhnya.

Delores Van Belkum bercerita kepada saya tentang cucu lelakinya yang menyatakan kritik tajam. Ayah dan ibunya selalu memakai gambaran palungan sederhana untuk menceritakan kepada Justin tentang Maria, Yusuf, dan bayi Yesus. Mereka ingin supaya ia memahami bahwa Anak yang lahir di Betlehem itu adalah Pribadi yang sangat istimewa. Ketika hari Natal sudah dekat, Justin pergi berbelanja bersama ibu dan neneknya. Seorang pelayan toko menunjukkan hiasan Santa, beberapa mainan, dan hiasan-hiasan dekorasi yang berkilauan kepadanya. Ia sangat terpesona. Namun ia menyampaikan sesuatu yang mengejutkan untuk anak kecil seusianya manakala ia mendongak ke atas dan berkata, “Tapi di manakah bayi Yesus?”

Pada Natal kali ini, marilah kita mengingat alasan paling utama dari perayaan ini, yaitu kelahiran Anak Allah. Maka, ketika orang mendengar kita berbicara dan mengamati kegiatan yang kita lakukan, mereka tidak akan bertanya, “Di manakah bayi Yesus?”  – DE

HINDARILAH MENGADAKAN PERAYAAN NATAL

TETAPI KEHILANGAN KRISTUS

 

 

Matius 2:1-12

 

PILIHAN NATAL

Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka

(Matius 2:10)

 

Kilauan dekorasi yang cerah, suara sukacita kidung Natal, anak-anak yang bergembira, dan ucapan riang “Selamat Natal”, kadang-kadang memberi kesan bahwa setiap orang merasakan kegembiraan karena Yesus telah datang ke planet kita. Namun, saat ini, hal itu tidak sepenuhnya benar, dan sebelumnya pun tidak pernah demikian.

Berita kelahiran Yesus menimbulkan beragam reaksi. Orang-orang majus bersukacita menyambut dan menyembah Sang Juruselamat (Matius 2:10,11). Namun Raja Herodes begitu terkejut ketika mendengar hal itu, sehingga ia berusaha untuk menemukan dan membunuh bayi Yesus (ayat 3,4,16). Ternyata, kebanyakan orang tidak menyadari makna yang sebenarnya dari peristiwa penting ini.

Sampai hari ini, banyak orang menghormati Yesus dan bersukacita karena keselamatan mereka. Namun, banyak juga orang lain yang membenci-Nya. Mereka mengeluhkan nyanyian kidung Natal di pusat-pusat perbelanjaan dan pajangan bernuansa Natal di tempat-tempat umum. Yang lainnya lagi bersikap masa bodoh. Mereka turut merayakan perayaan Natal. Mungkin mereka juga turut menyanyikan lagu-lagu Natal. Namun mereka tidak pernah mengenal Yesus secara pribadi atau tidak tahu mengapa Dia datang ke dunia. Mereka tidak menyadari kebutuhan pribadi mereka untuk percaya kepada-Nya dan menerima-Nya sebagai Juruselamat.

Apakah Anda termasuk kelompok yang tidak peduli? Mengabaikan diri-Nya dan perintah-perintah-Nya berarti menolak Dia. Natal menuntut sebuah keputusan terhadap Kristus. Pilihan ada di tangan Anda  – HL

 

JIKA ANDA MENYEDIAKAN RUANG BAGI YESUS DALAM HATI ANDA

MAKA DIA AKAN MENYEDIAKAN RUANG BAGI ANDA DI SURGA

 

 

Yesaya 8:23-9:1-6

 

TERANG YANG BESAR

Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar

(Yesaya 9:1)

 

Pada suatu malam yang dingin di bulan Desember, saya menyetir mobil melintasi pegunungan Maryland barat. Setibanya di salah satu puncak pegunungan di dekat Taman Nasional Rocky Gap, perhatian saya tertuju pada lautan cahaya yang terang benderang. Astaga, apakah itu? pikir saya ketika melewati tapal batas antar-negara bagian. Cahaya berkilauan itu membuat saya penasaran, sehingga setelah delapan kilometer meninggalkan batas antar-negara bagian tersebut, saya berputar dan kembali ke sana untuk melihatnya lagi. Ternyata itu adalah lampu-lampu perayaan masyarakat setempat selama musim Natal. Jika berkendara di siang hari, saya tak akan melihat apa-apa. Namun pada malam hari, cahaya menakjubkan itu tidak dapat diabaikan begitu saja.

Bukankah aneh jika kita mengeluhkan kegelapan moral dan rohani dunia kita ini, padahal itu sebenarnya tempat yang tepat untuk menunjukkan kecemerlangan cahaya Tuhan Yesus Kristus. Pada hari Natal, kita sering membaca kata-kata nubuat ini: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Yesaya 9:1).

Yesus bersabda tentang diri-Nya sendiri, “Akulah terang dunia” (Yohanes 8:12), dan kepada para rasul-Nya, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi” (Matius 5:14). Dalam dunia yang gelap, orang yang pernah melihat terang yang besar akan bertanya mengapa terang itu tampak dan apa maknanya. Dan tugas kitalah untuk menjawabnya – DC

 

UNTUK MEMBAWA ORANG LAIN KELUAR DARI KEGELAPAN

BIARLAH MEREKA MELIHAT TERANG ANDA

 

 

Habakuk 1:1-2:4

 

HANYA SATU PILIHAN

Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya,

tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya

(Habakuk 2:4)

 

Jika Anda meminta beberapa orang untuk menggambar sebuah garis lekak-lekuk di atas selembar kertas, mereka tidak mungkin membuat dua garis yang persis sama. Dari sini kita dapat menarik sebuah pelajaran: Ada begitu banyak cara untuk hidup tidak lurus, namun hanya ada satu cara untuk hidup lurus.

Tuhan mengatakan kepada kita bahwa orang yang benar hanya memiliki satu pilihan, yaitu untuk “hidup oleh percayanya” (Habakuk 2:4). Dalam pasal sebelum pernyataan dari Tuhan ini, Nabi Habakuk mengeluh tentang kekerasan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Ia merasa seolah-olah orang fasik menelan orang yang benar (Habakuk 1:13).

Allah menjawab keluhan Habakuk dengan mengatakan bahwa Dia berharap supaya umat-Nya bersikap “benar” dan hidup dengan iman. Dia tidak ingin mereka menjadi seperti orang yang “membusungkan dada” dan “tidak lurus hatinya” (2:4). Orang yang sombong dan terlalu percaya diri akan mencari-cari alasan atas kesalahan yang ia perbuat dan atas ketidaksempurnaannya. Ia tidak ingin mengakui bahwa dirinya membutuhkan Allah. Jalan hidupnya tidak lurus.

Kejahatan tampaknya menang di dunia kita ini. Namun, Allah mendorong kita untuk hidup dengan iman, dan menyimpan di dalam hati jaminan yang diberikan-Nya kepada Habakuk, yaitu bahwa akan tiba hari pembalasan bagi orang-orang jahat.

Satu-satunya cara untuk menyenangkan Allah sekarang ini dan menyiapkan diri untuk menghadapi hari pembalasan itu adalah hidup dengan iman – AL

 

SATU-SATUNYA JALAN YANG BENAR

ADALAH JALAN YANG LURUS DAN SEMPIT

 

 

Lukas 3:21,22

 

MENJADI BERGUNA

Terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”

(Lukas 3:22)

 

Yesus mulai tampil untuk melakukan pelayanan dan dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Namun, ketika keluar dari air setelah dibaptis, Dia mendengar Bapa-Nya berkata, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Lukas 3:22).

Apa yang telah dilakukan Yesus sehingga Dia layak mendapatkan penerimaan yang sedemikian luar biasa? Dia belum mengadakan suatu mukjizat pun; Dia belum berkhotbah; Dia belum membuat penderita penyakit kusta menjadi tahir. Sebenarnya Dia belum melakukan apa pun yang dapat kita anggap sebagai suatu kehebatan. Apa yang dikerjakan-Nya selama 30 tahun di Nazaret sebelum Dia melayani? Dia makin bertambah “hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (2:52).

Apa yang dilakukan di tempat yang sunyi bersama Allah, itulah yang memberi arti. Di saat-saat persekutuan dengan Allah inilah kita dibentuk dan dipersiapkan sehingga menjadi manusia yang dapat dipakai-Nya, yakni menjadi orang-orang yang membuat-Nya berkenan.

Mungkin Anda berpikir, Saya berada di suatu posisi di mana saya tidak berguna. Mungkin Anda merasa terbatas dan frustrasi karena faktor usia, menderita penyakit, anak-anak yang susah diatur, dan pasangan yang tidak mau bekerja sama. Namun, di mana pun posisi Anda, itu adalah tempat untuk bertumbuh. Luangkanlah waktu untuk membaca firman Allah dan berdoa. Bertumbuh dan berbuahlah di mana pun Anda berada, dan Bapa akan berkenan terhadap Anda – DR

 

PELAYANAN YANG BERBUAH

BERTUMBUH DI TANAH IBADAH NAN SETIA

 

 

Efesus 4:17-29

 

MENYIA-NYIAKAN HIDUP

Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia

(Efesus 4:17)

 

Betapa stresnya berbicara kepada sebagian orang tentang Allah, Yesus, dan keselamatan. Mereka meremehkan Anda dengan berkata, “Kita memiliki keyakinan masing-masing.” Atau, “Jangan mengkhotbahi saya tentang bagaimana harus hidup karena saya juga tidak akan mengkhotbahi Anda.”

Bagaimana cara kita menanggapi hal itu? Dengan menceritakan dan menunjukkan kepada mereka bahwa keyakinan kita di dalam Kristus masuk akal. Keyakinan ini memberi arti bagi kehidupan kita sekarang dan selamanya.

Dalam buku Papillon, sang tokoh utama bermimpi sedang diadili. Hakim mendakwanya melakukan kejahatan paling mengerikan yang pernah dilakukan manusia. Saat Papillon menanyakan kejahatan apa yang dilakukannya, sang hakim memberitahunya, “Tragedi menyia-nyiakan hidup.” “Aku bersalah!” kata Papillon, terisak. “Bersalah.”

Ada banyak orang di sekitar kita yang hidupnya tidak bermakna atau tidak berpengharapan. Mereka terjebak dalam jaring dosa, hidup “dengan pikirannya yang sia-sia” (Efesus 4:17). Peran kita, sebagai pengikut Tuhan Yesus, adalah menunjukkan bahwa hidup dengan iman itu masuk akal. Di tengah-tengah dunia yang tanpa tujuan dan penuh keputusasaan, kita harus hidup dengan tujuan dan harapan.

Ketika kita menunjukkan perbedaan yang telah dibuat Yesus dalam hidup kita kepada orang-orang di sekitar kita, mereka akan melihat bahwa hidup dapat memiliki arti dan tujuan. Dengan demikian, jika mereka berpaling kepada Yesus, mereka pun akan menghindari tragedi menyia-nyiakan hidup  – DE

 

 

Bilangan 27:15-23

 

KELUAR DAN MASUK

Atas titahnya mereka akan keluar dan atas titahnya mereka akan masuk

(Bilangan 27:21)

 

Ungkapan “atas titahnya” digunakan dua kali dalam Bilangan 27:21 untuk menegaskan bagaimana Allah akan membimbing bangsa Israel. Yosua harus mengarahkan bangsa Israel untuk “keluar” dan “masuk”, sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah kepada Imam Eleazar.

Seberapa sering kita membuat keputusan untuk pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu berdasarkan kesombongan, ambisi pribadi, atau hanya supaya tetap sibuk? Seberapa sering kita pergi hanya untuk menyenangkan hati seseorang yang menyuruh kita pergi, dan bukan karena ingin menyenangkan Tuhan? Ketika kita “keluar” untuk mengejar keinginan-keinginan kita sendiri, dan tidak mengikuti pimpinan Allah, kita akan frustrasi dengan usaha-usaha kita, sehingga semua itu menjadi sia-sia dan mengecewakan.

Namun jika kita keluar atas anjuran dan petunjuk Tuhan, “atas titah-Nya”, maka Dia bertanggung jawab atas hasilnya. Disadari atau tidak, yang kita hasilkan adalah pekerjaan yang menghasilkan buah.

Waktu untuk “masuk” juga diatur oleh Tuhan. Ada waktu untuk mundur dari segala aktivitas dan meluangkan waktu untuk berdoa, mengisi hati kita dengan firman-Nya, serta mengistirahatkan tubuh kita.

Kita harus datang setiap hari di hadapan Imam Besar kita, Tuhan Yesus, dan menerima perintah-Nya. Jika kita menundukkan kepala di hadapan-Nya dan memohon pimpinan dari-Nya, Dia akan membantu kita untuk mengetahui apa yang harus dilakukan dan kapan waktu yang tepat untuk melakukannya – DR

 

ANDA TIDAK MUNGKIN SALAH JALAN

JIKA MENGIKUTI PIMPINAN ALLAH

 

 

Yosua 1:1-9

 

AWAL YANG BARU

Janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi

(Yosua 1:9)

 

Mereka berdiri di tengah udara dingin bersama ribuan orang lain di Times Square, New York. Apa yang membawa mereka ke tempat itu? Tak ada pertandingan olahraga atau konser musik rock. Yang ada hanya kembang api raksasa yang turun sejauh lima meter di atas sebuah bangunan. Kejadiannya hanya beberapa detik, dan tampaknya bukan peristiwa penting yang perlu disaksikan sampai harus berjuang melawan kepadatan lalu lintas dan pejalan kaki di terowongan bawah tanah — kecuali jika itu terjadi di malam Tahun Baru.

Mengapa kita menciptakan hari libur saat tidak terjadi peristiwa luar biasa? Pada hari libur lainnya, kita merayakan ulang tahun orang terkenal, atau tonggak bersejarah, atau sesuatu yang lain. Malam Tahun Baru hanyalah suatu perayaan pergantian waktu. Kita melebih-lebihkannya karena ini menandai akhir periode yang lalu dan awal periode yang baru. Masalah dan pergumulan tahun lalu menjadi kenangan kelam saat kita memikirkan awal yang baru.

Hal ini tentu terjadi ketika bangsa Israel berdiri bersama Yosua dan menatap era baru di depan mereka (Yosua 1:1-9). Mereka telah mengembara di gurun selama 40 tahun. Di depan mereka terbentang tanah yang berlimpah susu dan madu. Terlebih lagi, mereka memiliki janji Allah bahwa Dia akan menyertai mereka.

Ketika berdiri membelakangi masa 12 bulan yang telah lalu, dan wajah kita menghadap ke arah tahun yang baru, kita memiliki pengharapan karena kita juga meyakini pertolongan Allah. Hal ini membuat pengharapan akan tahun yang baru layak untuk dirayakan! – DB

 

KITA DAPAT MEMERCAYAI ALLAH KITA YANG MAHA TAHU

UNTUK MASA DEPAN YANG TIDAK KITA KETAHUI

 

 

Hello world!

December 7, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!